Selasa, 06 Agustus 2019

Masa Menyerah di Raung?


Ingin Menyerah, Tapi Tak Bisa Menyerah 

Puncak Gunung Raung 3344 mdpl


Jalur terjal yang tidak berujung, berat beban yang dibawa dan juga gelapnya malam membuatku ingin menyerah pada pendakian ke Gunung Raung, kemarin.

Bagaimana tidak, Camp 7 yang menjadi tujuan camp hari pertama, tidak kunjung terlihat. Jalan terus menerus menanjak, tiada akhir sejak Camp 3. Badan sudah letih, basah kuyup oleh keringat yang mengucur. Menambah dingin menusuk tulang.

Jalan Menuju Puncak
Kaki serasa sudah enggan melangkah, menapaki jalur bebatuan dan berakar. Nafas sudah tidak lagi bisa berirama normal. Mata sudah tidak bisa fokus melihat, phobia jalan malam tepatnya. Sudah hampir 11 jam kaki ini menapak dari Camp 1 Sunarya menuju ke Pos 7. Tapi sampai pukul 20.00 WIB, shelter yang kami tuju tapi tidak kunjung terlihat.

Ingin mulut ini berkata dengan lantang “Aku menyerah!!” tapi hati ini melarangnya. Masa harus menyerah di jalur Raung, belum sampai Puncak loh..Apalagi, nanjak ke Raung butuh biaya besar. Okelah...

Jalur e broo....ini dari Pos 7 menuju ke Puncak

Yaa, memang tidak bisa menyerah. Entah berapa langkah lagi akan sampai ke Camp 7, kalaupun ingin berhenti dan turun, jalan pun sudah terlalu jauh. Sudah malam pula. Meski berat, kaki ini harus terus melangkah, meski berat, beban ini harus kubawa, meski berat harus sampai ke Camp 7 agar bisa istirahat. Dukungan dari tim juga membuatku semangat untuk sampai ke target hari pertama.

#karena tepar, jadi tidak banyak foto yang dibuat ya...haaa...

Pukul 21.00 WIB, tim Pejabat (pendaki jalan lambat) ini pun akhirnya sampai. Tenda warna kuning yang sudah terpasang, karena dipasang oleh porter yang juga membawa 15 liter air. Hebatlah mereka para porter itu.  

Angin besar langsung menyapa kami ketika sampai di Camp 7. Tidak butuh waktu lama, untuk mengeluarkan perlengkapan pribadi, ganti pakaian, jaket, kaus kaki, tidak lupa sarung, dan paling penting buka sleeping bag. Minum satu kotak susu coconut, tanpa menungggu makan malam, tidurlah saya..



Perjalanan dari Camp 7 menuju ke Puncak pun tidak kalah terjal dari awal pertama perjalanan. Tidak ada jalan 'bonus' menuju ke Puncak. Diestimasi perjalanan ke Puncak dari Camp 7 butuh sekitar 10 jam untuk naik turun. Nah loh, kalau Pejabat seperti kita pasti lebih kan...dan ternyata benar naik turun, kita tempuh selama 11 jam perjalanan. Wow...dua hari jalan 11 jam teruuuus.

Istirahat cukup di malam terakhir. Tidak lupa menikmati hamparan bintang, meski hawa di luar sangat dingin. Milkiway tidak lagi terlihat, tidak seperti saat terlihat di Pos 5 atau pos 6 saat nanjak. Perjalanan turun pun harus dilewati dengan slowly...pas Azan Maghrib kita sampai ke Pos Sunarya atau pos 1. atau berjalan sekitar 7 jam. 

Bayangkan kalau saya menyerah, tidak bisa sampai ke puncak. Sudah buang uang sia-sia, dan bakal menyesal seumur hidup. Karena sepertinya kalau diajak lagi ke Raung, saya bakal pikir panjaaaang lagi.

Berjuanglah terus sampai batasmu. Ingat persiapkan segala sesuatunya, terutama fisik sebelum naik gunung...




Minggu, 14 Juli 2019

Ngopi sambil Dakonan


Dakonan sambil ngopi ternyata enak

Dakon atau Congklak...masih inget permainannya?

Kemarin saya sempat lupa bagaimana cara mainnya..maklum..sudah ribuan purnama tidak memainkan permainan tradisional, zaman Sekolah Dasar dulu.

Saya main congklak, atau kalau familiarnya, dakonan, pada saat saya ngopi di warung Angkringan yang ada di Jalan Suparno, Purwokerto. Biasa, dengan teman seperjuangan, sengaja datang ke angkringan buat ngopi, dan makan gorengan. Mampir ke Angkringan ini, kalau sudah malas berfikir mau makan apa malam ini...haaa..

Habis memesan, dan membayar makanan, melihat pengunjung lain yang kebanyakan mahasiwa dan juga pelajar ini, memainkan berbagai permainan yang disiapkan oleh pengelola angkringan. Meski sering nongkrong ke sini, tapi selama ini belum pernah memainkan berbagai permainan yang ada. seperti Monopoli, ludi, dakonan, dan ada beberapa lainnya.

Iseng, temanku, pada saat duduk dan melihat sekitar, tercetus ide untuk main dakonan. "Mau main dakonan,?" katanya.
Tanpa basa bsai, ku jawab " Ya boleh,".


Papan Dakon dan Biji Dakon
Dia pun mengambil dakonan, dan juga toples kecil berisi manik-manik (zaman dulu di tempatku menggunakan kerang halus), untuk biji di dakonan. Bentuk papan dakonan maih sama seperti zaman saya kecil,, menggunakan plastik. Meskipun ada yang menggunakan kayu. Dakonan plastik, dengan tujuh lubang kecil di masing-masing sisi, atau berjumlah 14 buah dan ada dua lubang besar di masing-masing ujung.

Papan Dakon dari platik
Tiba-tiba pada saat akan membagi biji ke lubang-lubang kecil yang ada, lupa jumlah yang harus dimasukkan ke dalamnya. Karena sama-sama blank, akhirnya googling sebentar...(haa...mbah kali ini haru berterimakasih kepadanya).

Setelah googling, dan membaca, ternyata lubang-lubang kecil di isi sebanyak 7 biji. Ternyata, setelah di bagi, jumlanya kurang, sehingga  kami hanya memberi masing-masing lima butir dan enam biji di lubang-lubang kecil.

Kamipun suit untuk menentukan siapa yang bakal jalan duluan. Setelah suit, yang menang pun bisa memulai permainan, denan memilih lobang yang bijinya diambil, dan diletakkan di lubang-lubang sebelah kanannya, dan seterunya. Sampai nantinya, jika biji dakon habis di lubang yang masih terii biji, maka bisa melanjutkan perjalanan. Jangan lupa sambil mengisi lubang besar milik sendiri.


Bila biji yang diambil habis di lubang besar, maka permainanya berhenti. Begitu juga jika akan berhenti jika berada di lubang kosong. Tapi, jika berhenti di lubang kosong di sisi lawan, dia tidak akan mendapatkan apa-apa, tapi jika berhenti di lubang kosong milik sendiri, maka bisa mengambil biji yang ada di sisi lawannya.

Permainan akan selesai jika, satu diantara pemain udah tidak ada biji lagi di lubang-lubang kecil.  Lalu, jumlah biji yang ada di lubang besar dihitung, untuk menentukan pemenangnya, dengan memiliki jumlah biji terbanyak.

Permainan saya dan temen saya ini, berlangsung draw. Dari empat permainan yang kita mainkan, sambil makan gorengan dan ngopi, dua kali saya menang dan dua kali dia menang.




Dengan melakukan permainan ini, menjadikan ingatan ke zaman kecil dulu, apalagi di tambah sambil ngopi, rasanya seperti oldiest. Bersama dengan teman-teman yang kebanyakan merupakan tetangga. Main dari pulang sekolah sampai sore, dengan berbagai permainan yang dilakukan. Mulai Suramanda, petak umpet, lompat tali, main kelereng, main rumah-rumahan dari tanah, dan lainnya.

Berbahagialah kita yang pernah mengalami masa-masa menyenangkan di zamannya, dulu. Dengan berbagai mainan tradisional, dan belum terkontaminasi gadget seperti sekarang ini.


Kamis, 20 Juni 2019

Kota Satria atau Kota Pudak?



Kamu pernah kepikiran pengen merantau? Atau berpikiran tinggal di tempat yang jauh dari asalmu?
Kalo iya, berarti kita samaan. Hehehe.

Sebelum tinggal di kota Satria ini, aku tinggal di Gresik. Tau Gresik kan? Itu loh kota industri yang terkenal dengan Semen dan Pupuknya. Sejak usia dini alias 3 bulan di tahun 1986 (ketahuan kan umurku, he), aku pindah dari tanah kelahiranku, Cilacap, ke kota yang bersebelahan dengan Surabaya ini.

Sejak kecil, aku sering diajak ibu-bapakku mudik ke Kota Bercahaya- Cilacap. Naik kereta api. Jangan bayangkan kereta api jaman dulu seperti sekarang ya. Dari situlah keinginanku untuk merantau terasah tajam, pisau kali ah. Semakin dewasa, keinginan untuk pergi dari rumah semakin menggebu-gebu.

Dan kesempatan itu datang setelah aku menyelesaikan kuliah di tahun 2008. Tiga bulan setelah wisuda, aku kerja tapi cuman sebentar. Saking seringnya ngaplo alias ngga ngapa-ngapain di tempat kerja, browsing-browsing tempat-tempat asik pun terjadi. Klik klik klik dan eng ing eng...sampailah pada sebuah situs yang memperlihatkan keindahan kota PURWOKERTO. Jiwa petualangku terusik, e cie cie...

Di tahun 2010, aku memutuskan untuk pindah ke sana. Pengen tau kota ini seperti apa? Nih, aku kasih sedikit bocoran bukan cuman tentang Purwokerto tapi juga Gresik. Biar kamu ga berisik. Hihihi. Udah siap? Let’s start.

Kalo dilihat dari peta Indonesia, kedua kota ini sih ga sampe sejengkal tangan. Tapi kalo mau berkelana menikmati perjalanan, hijrah dari Gresik ke Purwokerto akan memuaskan dahagamu. Sebenarnya, kedua kota ini memiliki geografis yang jauh berbeda. Gresik merupakan dataran rendah di pesisir laut Jawa sedangkan Purwokerto berada di dataran tinggi di kaki Gunung Slamet. Dari sini udah merasakan bedanya kan?

Udara Purwokerto tentunya jauh lebih sejuk dibanding Gresik. Belum ada Polusi (kala itu, red). Kabut? Sering banget turun meski itu di pusat kota. Apalagi musim kemarau, kabup pekat bakal turun di kota seribu curug ini. Curug atau air terjun, atau waterfall ya...heee..

Curug Cipendok

Oya? Iya dong. Seribu curug? Kayaknya lebih deh. Tapi belum tahu ding. Belum pernah bener-bener survei jumlahnya di sini. Kalo kamu tinggal di kota ini, untuk menuju ke curug-curug itu deket, guys. Kebanyakan curug-curug itu di wilayah Baturraden. Kenal kan sama doi? Dataran tinggi yang sekarang masuk dalam 10 tararan tinggi terpopuler di Indonesia. Baturraden cuman setengah jam dari pusat kota Purwokerto. 

Di sini, kamu bisa explore jiwa petualanganmu dengan mengunjungi beragam curug. Mau curug yang tinggal nyemplung tanpa jalan kaki atau pengen bikin kakimu capek sebelum ciblon juga ada. Dari curug yang tingginya puluhan meter sampai curug yang cuman lima meter ada semua di sini.


Kedung Pete, Curug Telu


Meski Gresik tak sesejuk Purwokerto bukan berarti di kota Pudak ini tak ada tempat wisata. Banyak juga dong. Bedanya, di kota ini lebih banyak wisata sedimen penambangan kapur. Sebut saja Bukit Jamur di Menganti dan Wisata Sekapuk yang menyajikan indahnya kerukan penambangan kapur. Kota ini memang dijuluki kota kapur karena saking banyaknya wilayah kapur di sini.
Kota ini juga banyak industri. Polusi? Bisa dibayangkan.

Tapi tetap saja, kota ini mempesona. Karena UMR di kota ini tinggi, guys. Wih wih wih. Ditambah lagi, beragam kuliner lezat tersaji di sepanjang jalan dari arah Surabaya sampai ujung kota ini which is berdekatan dengan Lamongan. Dijamin bisa subur makmur kalo kamu merantau di sini. Sebut saja nasi krawu daging, bandeng presto, otak-otak bandeng, lontong kupang, lontong rumo, martabak usus, pentol kojek, dan kalo kamu beruntung setiap Ramadan di daerah Gumeno tersaji kolak ayam.


Foto perjalanan Saya dan teman2 saat di Gresik

Belum pernah makan ayam dibikin kolak kan? Makanya main ke Gresik setiap Ramadan dan temukan keaslian rasa kota ini, uwooooo. Eh, kelupaan. Satu lagi makanan yang wajib dicoba, Pudak. Penasaran kan? Makanan ini sejenis snack yang ga ringan. hihihihi. Soal harga, makanan ini tidak menguras kantong para perantau yang masih pas-pasan cenderung kering sepertiku , hiks. Dijamin rasa kaki lima harga bintang lima, eh, kebalik. Rasa bintang lima, harga kaki lima. 

Trus gimana Purwokerto? Makanan apa aja yg yahud di sana?

Yang paling terkenal tentu saja tempe mendoan. Di sini, kamu bisa menemukan bentuk mendoan yang super besar sampai-sampai perutmu kenyang hanya dengan makan sebiji aja. Kalo kamu suka yang manis-manis kayak aku, hehehe, di kota ini tersedia getuk goreng. Iya getuknya digoreng.


lagi...haluu

Rasanya? Tentu saja semanis omongan gebetan waktu pedekate. Ada juga dages. Ini sejenis tempe tapi dari ampas tahu. Kan bingung? Jadi sebenernya ini tempe apa tahu? Mau tau? Ke sini aja.
Soal rakyatnya alias para buddies-nya, kedua kota ini menjadi juaranya. Ruuuuaaaammaaaaahh banget. Ga usah takut untuk bertanya pada orang-orang disini. Mereka akan sangat senang membantu Anda-Anda sekalian jikalau tersesat di kota ini. Jika beruntung, bisa dapat pasangan, eh.

Meski sekarang sudah tinggal di Purwokerto, Gresik tetap selalu di hati. Dua-duanya tidak terpisahkan dari nadi ku..ahaay....

Rabu, 19 Juni 2019

Cebong dan Kampret di Mandalawangi

Pejabat di Mandalawangi Gunung Gede Pangrango

Kabut dingin menyapaku saat kaki ini menapak di Lembah mandalawangi, Gunung Pangrango April lalu.

Lembah Mandalawangi, yang menurutku sebuah percikan surga yang mendarat di Gunung Pangrango ini. Sepanjang mata memandang, hamparan bunga abadi Edelweis yang mulai mengembang. Sungai kecil yang membelah Mandalawangi airnya mengalir sepanjang tahun. Bersih, dan juga rasanya ada manis-manisnya gitu. (bukan kaya iklan air mineral loh, hee...).

Otakpun bekerja lebih normal, asupan oksigen yang bersih dari udara Mandalawangi membuat, toksik-toksik hilang. Aliran darah semakin lancar, bahkan kalau dibuka, bisa muncrat. heee...

Sunyi, suasana di lembah yang dijadikan puisi oleh Soe Hok Gie, aktivis UI dan juga pendaki gunung yang sering menghabiskan waktu disini. Pemandangan yang indah, suasana yang sunyi memang sangat cocok untuk untuk mencari inspirasi membuat puisi. Sayang,..karena sibuk foto jadi tidak sempat..haaa..

Hening,.tidak ada suara keramaian. Patut untuk menyepi, tapi jangan sendiri. Bakal menakutkan pasti, dan kalau terjadi apa-apa tidak ada yang mengetahui. Cuman mengingatkan, disini ada prasasti sebagai lambang untuk mengingat para pendaki yang meninggal di Gunung dengan ketinggian 3.019 mdpl ini.

Ngopi di Mandalawangi
Kopi yang dibuat pun, menjadi kopi terenaak di dunia. Meski hanya kopi sacet, bukan kopi-kopi khas kedai kopi yang lagi kekinian itu. Apalagi, bercengkrama dengan teman yang baru dikenal di puncak. Kebersamaan, keeluargaan, tanpa ngomong politik pilihan ita, meski kami Cebong dan Kampret.

Ingin rasanya berlama-lama, bahkan menikmati malam di lembah ini. Menikmati gugusan bintang di langit yang terlihat akan sangat dekat dengan kita, membuat kita serasa lebih dekat dengan pencipta (kalau merasa sih). Waktulah yang akan menemukan kami..pendaki dan Kesunyian Mandalawangi.

Sponsor kami, Hitec

13 Tahun lalu, kaki ini menginjakan kaki di Gunung Pangrango. Ajakan dari teman 'balung tua' lah yang membuat saya menjelajah kembali ke masa lalu. Kaki tidak selincah dulu, tidak lagi bisa menahan berat beban seperti dulu. Dengan tekat keras dari Tim Pejabat (pendaki Jalan Lambat) ini, membuat perjalanan lebih menyenangkan.



Camping di Kandang Badak, itu ajakan pertama kepada saya, yang langsung saya iyakan. Sesampainya disana, ternyata tujuan adalah Puncak Pangrango. Saya ikuti, karena kala puncak Gede, pasti akan saya tolak. karena beberapa bulan lalu, baru meninjakan kaki di Gunung Gede, yang sangat ramai, serta sudah banyak penjaja makanannya. Kalau seperti ini sih, ada positifnya, bisa meringankan beban konsumsi kalau nanjak.

Empat orang pendaki cewe, yang sudah puluhan tahun tidak meregangkan kakinya di gunung, mencoba mendaki lagi. Langsung ke Gunung Pangrango.



Perjalanan yang tidak mudah, tapi dengan semangat 30 an, kami berangkat dan menjajal kaki dengan jalur Cibodas. Butuh sekitar delapan jam, perjalanan dari basecamp Cibodas menuju ke Kandang Badak. Perjalanan yang tidak mudah, bikin ngos-ngosan tapi menyenangkan.

Menjadi lebih semangat, karena menu makan malam yang sangat istimewa. Dengan Chef langsung dihadirkan dari Depok, Chef Emon.

Menu Makam Malam kami
Perjalanan dari Kandang Badak, menuju e Puncak secara normal ditempuh selama dua jam perjalanan. Tapi kali ini, bagi kami lebih dari itu. Padahal, tidak ada beban yang kami bawa di punggung.

Apa coba masalahnya, ternyata...kita tidak sarapan. Padahal, saat malam, menu makanan kami sangat mewah dan banyaaak...

Walhasil, jalur yang panjang dan menanjak, dengan perut keroncongan, membuat kami semakin lambat. Beruntung, teman perjalanan kami, eh mas Porter, Kang Balon. Kesalahan fatal lagi, adalah, tidak membawa trangia, jadi tidak bisa ngopi Puncak, atau di Mandalawangi. Ah..pendakian iseng banget kan...kelihatan lama ngga pernah nanjak nih...duh

Kelihatan lemes banget kaan...
Semua kelelahan, terbayarkaan dengan indahnya Mandalawangi. Puncak sih biasa saja. haaa...
Apalagi, disana saya mendapat pengalaman yang tidak enak. Menginjak "ranjau darat" alias ee orang. teganya, pendaki itu, ee di dekat puncak, dan ruangan terbuka pula. Ah...baunya jadi keinget deh...Sem.

Puncak Pangrango

Kopi terenak juga didapatkan, dari 'urunanya' pendaki-pendaki lain. Kompor pinjam dari pendaki asal Jakarta, yang dituker dengan setup pisang. Kopi, ternyata da satu disaku Kang Balon. Kopi yang enak dan bisa mengisi energi, meski tidak full. Tapi bisa membawa kami turun Kandang Badak.


Puncak Pangrango dari Kandang Badak

Poto wajib di Mandalawangi

Meski lelah, kami Bahagiaa


Keren kan kami...heee

Sebelum menanjak


Ingin lihat perjalanan mengasyikan kami di Gunung Pangrango, bisa klik https://youtu.be/dqszJq1aN_0



Rabu, 16 Januari 2019

Jatuh Cinta pada Disposable Cam



Kenal kamera ini waktu lagi ada flashsale di Salah satu toko online. Melihat harganya kok murah, jadi beli. karena awalnya saya fikir ini kaya kamera poket rol kamera analog zaman dulu, dan yang bisa diisi ulang lagi. Ternyataa......


Sejak kecil sudah suka kamera. Kamera analog SLR saya, hilang di kosan, saat saya tinggal kerja dulu. tapi ada kamera poket yang sebenarnya masih bisa digunakan, tapi karena  mencari rol film sudah susah, jadi begantilah ke kamera digital. Apalagi, pekerjaan saya juga mendukung untuk menggunakan kamera digital, baik DSLR, prossumer, atau kameran saku.

Tapi aneh, sekrang ini hasrat untuk kembali ke kamera analog lagi tinggi. Lalu kamera poket yang masih ada caya cari di gudang. Ternyata eh ternata....sudah diloakkan oleh Babeh saya. Mau bagaimana lagi, mencari jejaknya saja sudah tidak mampu.



Jadilah saya tertarik dan pencet produk disposable cam. Meskipun saya sudah baca deskripsinya, saya masih beranggapan itu kamera poket yang bisa isi ulang. Setelah transaksi, saya baru ngeh kalau namanya Disposable Camera. Otomatis searching ini kamera apa dong. Ternyata ini kamera sekali pakai, dengan isi 27 film. Jadi artinya, setelah habis 27 pencetan, sudah ngga bisa di pakai lagi, nah looh...sempet paniklah saya. 

Pingin di cancel tapi dah terlanjur. Harganya juga ternyata murah, satu biji Rp 170 ribu, nah saya beli isi 2 harga Rp 410 ribu plus ongkos kirim. Mahalan punyaku ya, meski lagi flash sale.

Melihat refrensi dan hasil-hasil fotonya bagus-bagus, unik, malah jadi penasaran, nanti hasilnya bakal seperti apa. Saya malah jadi semangat kamera ini bakal Aku bawa buat jalan-jalan pas tahun baru kemarin...So...saya yakinkan diri untuk tidak menyesal. Meskipun, berfikir..bakal dimana cetak fotonya di Cilacap....tapi..ah..itu dipikrkan nanti.




Paket Disposable Camera yang saya terima isinya ada dua kamera yang terbungkus plastik, lalu ada case camera warna hijau, serta ada carabiner hijau, khas Fuji Film.

Ternyata Ada banyak merk kamera sacet ini, kalau punya saya Fujifilm dgn iso 400. Infonya ada banyak merek lainnya, seperti Kodak, delel..kalau penasaran bisa cari ditoko online, search Disposable Cam, bakal banyak keluar dengan harga bervariasi

Cara pakainya sangat mudah ternyata. Plastik yang membungkus kamera tinggal disobek. Lalu bisa laungsung digunakan. Kalau mau pakai flas, tinggal tarik flip pada bagian sebelah lensa, naik turun. Meski flasnya kecil, nyalanya lumayan kok. CUman karena bukan kamera digital, kita tidak bisa lihat hasilnya langsung. 



Kalau sudah selesai memotret 27 foto maka shutter tidak akan bisa kamu klik lagi. Kalau udah begitu, gulung film hingga masuk lagi ke dalam rol.

Untuk mengeluarkan film, kita  harus "merusak" disposable camera, sampai rol film yang ada di dalamnya bisa dikeluarkan, dan kemudian di cetak. Setelah itu kamera tidak bisa digunakan lagi, buang atau jadi pajangan aja di kamar.

Untuk hasilnya, dari lihat di internet keren-keren. Kalau punya saya belum saya cetak, karena eh...karena...di kota saya tinggal, Cilacap sudah tidak ada tukang cetak foto yang bisa. Jikapun bisa kalau sudah dalam bentuk klise. Berlarilah aku ke kota tetangga, Purwokerto, dan ubek-ubek kota kecil ini pun sama. Sudah tidak ada yang bisa cetak.. yaaah...terpaksa cari lewat online, dan ada di luar kota. Ngga apa-apa yang penting bisa tercetak.






Rabu, 05 Desember 2018

Berpetualang ke Suku Baduy

Selamat Datang di Baduy
Pernah membayangkan hidup tanpa gadget di dunia serba teknologi seperti sekarang ini? Atau bahkan tanpa listrik? Kalau tidak, sepertinya berpetualang di kampung Baduy bisa menjadi pengalaman baru buatmu.

Bagi yang belum tahu atau masih suka bingung lokasi kampung adat yang satu ini, sinih biar aku bisikin. Kampung Baduy yang masih memegang erat dan melaksanakan aturan adat ini berlokasi di Kabupaten Lebak Provinsi Banten. 

Tim Jalan-jalan kami di Baduy
Letaknya tak jauh dari ibu kota Jakarta. Makanya tak heran, jika para petualang hutan belantara kota yang ingin mendapatkan pengalaman hidup tanpa gadget bakal datang kemari. Bukan hanya letaknya yang dekat dengan Jakarta, tapi juga pengalaman yang rrrruuaaarrr biasa bikin geleng-geleng kepala.

Mulai saja dengan tanpa alas kaki. Bayangkan jika kamu berjalan tanpa alas kaki. Telapak kaki ‘halus’mu harus bersentuhan dengan tanah dan juga bebatuan. Geli? Sakit? Atau bahkan aaah..ogah! Nah, penduduk Kampung Baduy sudah terbiasa untuk berjalan tanpa alas kaki. Ga usah ditanya sekekar apa kaki mereka. Untuk ‘meneladani’ para penduduk Baduy, cobalah untuk tidak menggunakan alas kaki saat berjalan di kampung mereka.  Berjalan? Engga ada motor? Ojek gitu?

Anak-anak Baduy Dalam
Yup! A hundred persent correct! Di kampung ini tak ada ojek, ditambah lagi jalanan yang becyyek apalagi setelah hujan turun. Bikin sandal ataupun sepatumu berat karena penuh tanah. Mungkin itu pula yang menjadi salah satu alasan mereka tak menggunakan alas kaki. Tentu saja di lain pihak karena aturan dari adat Baduy melarang mereka untuk menggunakannya. Tapi tenang saja, alas kaki masih boleh digunakan bagi kalian, para pendatang yang berkunjung kemari.

Anak-anak Baduy Dalam berfoto di jembatan akar
Sebenarnya ada dua macam Kampung Baduy, Baduy Luar dan Baduy Dalam. Mereka-mereka yang tak menggunakan alas kaki sekalipun merupakan penduduk Baduy Dalam. 

Bagaimana dengan Baduy Luar? Para penduduk Baduy Luar lebih modern. Tak ayal banyak penduduknya menggunakan alas kaki meski juga sebagian dari mereka tetap mempertahankan adat untuk tidak mengenakannya. Di kampung Baduy Luar juga boleh memainkan handphone ataupun gadget lainnya. Tapi jika ingin memotret orang-orang Baduy tetap meminta izin ya. Kalau candid, tak tahu lagi akan jadi apa. He he he he….

anak-anak Baduy Luar
Membedakan Baduy Luar dan Dalam pun bisa dilihat dari cara berpakaian mereka. Jika Baduy Dalam hanya mengenakan pakaian hitam dan putih saja, serta ikat kepala warna putih. Kalau Baduy Luar, pakaian bisa bervariasi, rata-rata biru, serta dengan ikat kepala pun biru.

Lain ladang lain belalang, lain lumbung lain ikannya. Ini pula yang diaplikasikan pada kedua kampung ini. Meskipun jaraknya berdekatan (bagi penduduk Baduy, kalau pendatang? Oh Nooo), kedua kampung ini memiliki beragam perbedaan. 

Anak Baduy Luar bermain Gadget sambil menunggu warungnya
Jika di kampung Baduy Luar masih boleh menggunakan handphone dan gadget lainnya, di kampung Baduy Dalam dilarang keras menggunakannya. Khususnya bagi pendatang. Untuk kedua Kampung ini, tetap tak ada aliran listrik. Jadi jangan harap bisa nge-charge hp-mu. Lampu saja tak ada.

Bagaimana dengan penerangannya? Mereka menggunakan lilin. Dan asiknya, mereka menggunakan cangkang kelapa sebagai dinding lilin untuk dijadikan senter ketika mereka hendak bepergian malam. Keren kan!  

Sedangkan kalau kita ke sana, diharapkan membawa senter sendiri..biar terang teruuus...

Rumah-rumah keduanya pun berbeda. Baduy Luar, memilki dua pintu di masing-masing rumahnya, sedangkan untuk Baduy Dalam hanya ada satu pintu yang digunakan untuk keluar masuk. Rumah di Baduy Luar terasnya lebih lebar, dan digunakan untuk menenun oleh para wanita. Di depan rumah mereka tidak jarang berjajar kain-kain yang dijal kepada pengunjung, serta berbagai jenis camilan serta minuman.


Berpose di depan Rumah Baduy Luar dengan kain-kain hasil tenunan para wanita Baduy Luar
Dengan tidak dibolehkannya gadget ataupun kamera ke dalam Kampung Baduy Dalam...otomatis, kita tidak bakal bisa mengaktifkan ponsel kita. Bagaimana mau berhubungan dengan orang luar, sinyal saja tidak ada...heee...

Jadi ini bisa dimanfaatkan kita untuk sharing dan ngobrol banyak dengan orang-orang Baduy Dalam. Kulik-kulik kehidupan mereka seperti apa, dai aturan adat, sanksi, pola hidup, dan lainnya. Dan mereka bakal menjawabnya dengan senang hati. 

Salah satu jembatan di Baduy
Jangan tanya, ada WC atau tidak...ada, dan itu luaaaaaas...sekali. kok luas, ya iyalah, MCK ada di sungai, dan tidak ada sekat atau pembatas. Plorooot celana, langsung plung....haaa...tapi tenang, ngga usah malu nanti bisa diintip atau dilihat sama cowo-cowo. Karena lokasi untuk cowo dan cewe dibedakan, terpisah, karena bukan mukhrim...

Kita juga tidak dibolehkan untuk menggunakan sabun, pasta gigi, juga detergent untuk sikat gigi, ataupun mandi. Dilarang!! Para penduduk Baduy Dalam terbiasa dengan daun-daunan serta abu kayu sebagai pengganti mereka. (karena tidak boleh foto, maka ngga ada foto ya gaes)

Salah satu tanjakan di Baduy Luar
Apalagi yang bisa kalian rasakan di Kampung Baduy ini? Langsung ke sana saja lah. Biar merasakan sendiri begitu eloknya kampung yang satu ini. Bagaimana caranya? Tenang..akan saya kasih tahu.
Jika kalian dari Purwokerto seperti kami, naik kereta saja menuju stasiun Tanah Abang. Dari sana, ambil KRL jurusan Rangkas Bitung. Dari stasiun Rangkas Bitung, cari angkot atau ELF yang menuju ke Cibolegeur. 

Dari Ciboleger menuju ke Baduy Dalam, membutuhkan waktu sekitar 5-6 jam perjalanan jalan kaki. Saya sarankan menggunakan sepatu gunung, apalagi kalau lagi musim hujan, licyiiin boo...

Kita bakal melewati sekitar 7 kampung Baduy Luar sebelum masuk ke Baduy Dalam. Kemarin lupa tidak saya catat, jadi nanti searching dulu deh...heee... Jalannya naik turun, belok kiri belok kanan...siapkan fisik yang prima sebelum ke sini. 

Jembatan perbatasan Baduy Luar dan Baduy Dalam
Perbatasan antara Baduy Luar dan Dalam, hanya Menuju ke Baduy Dalam, yakni sebuah jembatan bambu, entah jembatan ke berapa ya. Tidak ada tanda pastinya, jika kita jalan dengan orang Baduy Dalam pasti dikasih tahu. Karena setelah jembatan itu, kita sudah tidak boleh menggunakan ponsel dan juga kamera kita, untuk berfoto ria. Padahal, setelah itu, jembatan dan naik ke bukit, pemandangannya luaaaaaaaaar biasah....

Bahkan, pada saat kemarin ke sana, disambut pelangi setengah lingkaran. Cantiiik....Kali ini kecantikan pelangi, hanya diabadikan dengan mata kita saja.  

Oke deh...kalau penasaran seperti apa di Kampung Baduy...cussss

Tim bahagia...abis turun, mandi dan siap pulang...


Cerita seru-seru lainnya soal Orang Kanekes ini bakal menyusul....

Kamis, 18 Oktober 2018

Nyasar, Sampai Kutabawa Flower Garden



Mengingat nama-nama tempat, daerah adalah satu kelemahanku.  Jadi kadang kalau ke suatu tempat, lupa dimana. Meski sudah pernah ke lokasi, atau setidaknya tahu tempatnya seperti apa, eh...lupa. Kan jadi kelihatan... 

Ini nih, yang terjadi pada saat ke Kutabawa, Purbalingga. Beberapa tahun lalu memang sudah pernah ke lokasi ini, tapi memang lewat Serang. Pas kemarin nih, di otak terngiang-ngiang, seperti sudah pernah ke sana, tapi kok ya saking lemahnya otak saya soal ingatan lokasi itu membuat, jadi bleeng.

Icon Kutabawa Flower Garden
 Akhinya, dengan bantuan dari Google Maps, saya dan teman menuju ke Kutabawa. Karena tertarik dengan taman bunga yang waktu itu lagi ngehits "KUTABAWA FLOWER GARDEN".

Satu jam perjalanan dari Purwokerto, lebih...kami tempuh. Jalurnya bukan lewat Serang, tetapi lewat Goa Lawa, kan tahu bagaimana jauhnya...haaa....Oooh banget. Tapi karena penasawan, tetap saja ditempuh, meski bensin sudah limit..haaa

pintu masuk Kutabawa Flower Garden
Akhirnya, saat sampai ke lokasi, dan baru 'ngeh', kalau memang pernah ke sana. Tepatnnya, ke kebun Strowberi yang ada di sebelah Taman Bunga Kutabawa ini. Karena sudah sampai sana, so..nikmati saja Taman Kutabawa, dan main-main di dalamnya.

Tanaman bunga ditata dengan rapih

Petugas menyiram bunga-bunga di taman
Menarik juga ternyata di dalamnya. Banyak jenis tanaman, terutama bunga yang ditanam di sana. Warna-warni. Kalau dari informasi berbagai bunga ada di sana, seperti Bunga Celosia pagoda, Bunga Marigold, Bunga Begonia (ini nih biasa liat di gunung, dan jadi tanaman survival). Lalu ada Bunga Petunia, Bunga Tanggo, Bunga Iriancis, Bunga Vinca ada juga Bunga Lavender. Mungkin masih banyak lagi...

Warna-warni yang menarik
Bunganya sudah warna-warni dan di tata sedemikian lupa, pasti lah ada banyak lokasi atau spot selfie, yang disediakan oleh pengelola. Ini nih, yang membuat orang tertarik datang, selain warna-warni bunganya.

Saat datang ke sana, hari sudah hampir senja. Mendung, khas daerah pegunungan. tetapi tidak menyurutkan pengunjung yang datang ke sana, untuk berfoto-foto dan juga menikmati sejuknya udara pegunungan Gunung Slamet, gunung terbesar di Jawa.

Leyeh-leyeh saja sambil menghirup udara segar pegunungan
Tiket masuk ke dalam tarifnya Rp 10.000. meski sudah sore tetap saja harganya sama...haa..Ngarep kalau harganya didiskon. Keliling di sekitar, tapi ngga sampai nanjak ke atas. Meski kelihatannya di bagian atas ada spot selfie dan pemandangannya asik. Tapi karena malas nanjak, so duduk-duduk aja menikmati hawa pegunungan.


Harga tiket masuk Rp 10 ribu

Lokasi foto-foto

Bisa buat foto Prewed ya
Foto iseng