Rabu, 25 November 2015

Mantai Seru di Selokpipa, Nusakambangan



Pantai Selokpipa

Pulau Nusakambangan atau Alcatrasnya Indonesia, memiliki keindahan alamnya yang sangat fenomenal, eksotis, dan luar biasa (begitu kata Tukul Arwana, hee). Sayangnya, sesuai peraturan Menteri Dalam Negeri, pulau yang berada di selatan pulau Jawa ini hanya digunakan untuk kegiatan pembinaan warga binaan di tujuh lapas yang ada disana.


Pantai Karangtengah...rumput lautnya hitam..nah loh

Nah loh, padahal banyak banget tempat keren yang ada disana. eits, tapi masih ada tempat-tempat tertentu yang boleh dikunjungi loh. Seperti di Nusakambangan Timur (sebenarnya NK barat di Pantai Permisan juga bisa dikunjungi, aksesnya kayaknya lewat orang dalam), ada beberapa pantai yang bisa dikunjungi ke sana. Seperti pantai Karangbolong, pantai Karangbandung, atau mercusuar Cimiring, benteng jaman penjajah, pantai Selok Pipa.

Pantai bukan Selokpipo..heeee

Selokpipa


Mau mantai seru, ya main ke Selokpipo, rasanya komplit banget bagi yang bener-bener pecinta jalan-jalan. Adventure banget deh, ada mendakinya, alam yang masih hijau, bisa main pasir hitam dan putih, lihat batu karang, memancing, mandi di pantai bahkan sampai menyelam walaupun dangkal.

Uwow...menyelam? bagaimana bisa? kan langsung tertuju ke laut lepas, padahal gelombang Samudera Hindia-nya dasyat minta ampun...bisa dong...coba ajah ke Pantai Selokpipa, bisa snorkling dan melihat ikan dan terumbu karang yang oke punya.
Gini nih...Maklum Case kamera murah,gambarnya burem
 Mau...yuk kesana. Ke tempat ini asiknya bareng serombongan temen. Soalnya waktu itu, saat cuma bertiga suasana sepi, malah saat mau naik kebukitnya dihadang sama babi hutan. haaa...daripada kenapa-kenapa...larilah kita dan pulang saja, walau sempat balik badan mau ke Pantai Kalipat.

So pas temen-temen dari #klintung dari Purwoketo mau ke Selokpipa, kita ikutan deh. Secara itu tempat yang sudah terkenal, berada dekat dengan rumah, tapi belum pernah ke sana...kasihaan deh lu...heee
Beramai-ramailah, kita meuju ke Selokpipa bersama dengan tim #klintung yang membawa para tamu-tamunya itu.
Narsis ala Klintung

Klintung bersaudara

Tim Klintung
Tidak usah bingung kalau mau ke Nusakambangan, bukan lewat dermaga penyebrangan Wijayapura, tetapi kita menyebrang melalui Pantai Teluk Penyu. Banyak kapal wisata yang akan membawa kita menyebrang menuju ke Nusakambangan.

Bilang saja mau ke Selokpipo, para pelaut lokal itu bakal membawa kita ke sana. Bisa langsung menggunakan perahu ke pantainya dengan memutar ke ujung NK, bisa saja ke dermaga Karangtengah, biayanya Rp 20 ribu kalau hanya menyebrang, nanti pulangnya dijemput lagi. Tapi ngga tahu jika diantar sampai ke lokasi harganya sama atau tidak.

Disini nih turunnya....sebelahnya ada dermaganya, ngga ke foto
Nih..dermaganya, pas mau pulang dan lagi surut

Jangan lupa berdoa sebelum naik kapal, dan sampai di Pulau Nusakambangan. heee...bukan apa-apa, biar kita selamat saja.

Kalau sudah menyebrang dan samai di NK, langsung saja kita berjalan menyusuri jalan setapak yang sudah terlihat jelas disana. Jangan kaget ika kita disana menjumpai beberapa rumah sederhana yang dibuat dari anyaman bambu berdiri disana. Mereka disana bercocok tanam, dan mengambil hasil kepala, serta membuat gula merah.

Kalau ditanya, mereka bukan berasal dari Cilaca, tetapi dari daerah lain. Waktu itu yang saya tanya dia berasal dari Purbalingga. Bersama isteri yang sedang hamil dan anak lelakinya, dia membuat gula merah di sana. Jika gula merah sudah banyak terkumpul, dia akan pulang dan menjualnya.

Sayangnya kemarin saat ke sana, karena untuk membuka lahan untuk menanam, orang-orang ini membakar semak-semak, agar cepat rapihnya dan biar bisa segera di tanami. Sayan sekali.

Ini foto perjalanan saat cuman bertiga, dan dihadang babi hutan
Tinggalkan saja mereka...kita kembali beralan menuju ke Selokpipo, yang hanya akan kita tempuh sekitar 30 menit lebih dikit.

Medannya juga tidak berat-berat amat. Buat yang biasa bawa cerir, oke sajalah, paling hanya keringat yang keluar, buat yang biasa bawa tas jinjing lumayan melelahkan lah. Atur nafas dan langkahnya,pasti bisa deh.

Biar nyaman saat ke sini, penting menggunakan pakaian yang menyerap keringat dan nyaman dipakai. Selain itu juga pakai sepatu atau sandal yang mumpuni buat berjalan di bukit dan hutan-hutan. Tidak disarankan pakai sandal cantik ya..heee..mbokan keplset.
Naiknya dikit kok

Istirahat di puncaknya nih
 Kalau lagi 'beruntung' bakal ketemu sama hewan-hewan yang ada di sekitar hutan Nusakambangan. Dulu pernah didatangi sama babi hutan, teman seperjalanan saya dari #klintung pernah di temui oleh kera-kera yang sedang marah. Tapi pas kemarin senyap, tenang, aman.

Masih lumayan asri kan ya...adem-adem dikit

Selama perjalanan, selain pohon kelapa, kita uga bakal menumpai pepohonan yang masih rimbun, dan hijau. Udara panas memang sangat terasa, karena kemarin sedang musim kemarau, juga lagi jarang angin yang berhembus. Tetap semangat, tidak lama kok, sampai ke pantai yang kita cari.

Dalam peralanan nanti, kita uga bakal melewati sungai kecil yang kelihatannya bermuara di pantai. Kemarin, sungainya kering, hanya bebatuan yang terlihat. Jadi kalau lagi hujan,hati-hati jalannya yaa...

Sungai kering yang bakal kita lalui

Perjalanan naik-naik ke puncak bukit ini memang sedikit bikin 'ngos-ngosan'. Tapi, kamu bakal bisa membayangkan saat meliat birunya pantai disana, ploong...pingin cepet-cepet main air daah...


Pas pertama lihat, dalam hati langsung bilang "Kok pantainya hanya begini,". Eh...ternyata bukan spot ini yang bakal kita tuju, masih beberapa langkah lagi kita harus berjalan ke lokasi yang katanya seperti syurgaa..nggombal beud ya. 


Pantainya lagi pasang, jadi ngga bisa jalan kaki menuju ke balik tebing itu, harus muter
Karena air laut sedang pasang, jadi kita harus berjalan memutar. Naik ke atas batu dan melipir melewati tebing tebing batu yang menutup surga tersembunyi...yailah, dramatis ya..

Jalannya ada yang kayak gini nih

Pantainya

Ini belum seberapa



Ketika sudah melewati tebing batu, kita bakal turun dan menemukan kau kering yang bisa jadikan spot berfoto. Lumayan, narsis dulu deh...eh..ternyata tempat ini uga bukan spot yang jadi tujuan kita. Masih harus berjalan dikit lagi, sumpeh ngga sabar banget deh.

Nyebrang dulu...amanin barang-barang
 Melipir ke pantai, dan harus melewati sungai yang airnya bening banget. Kayaknya airnya awar ngga ya, kemari lupa nyoba koh. karena bawaan di tangan lumanya ribet. heee

Airnya tawar
 Habis berbasah-basahan karena menyebrang di sungai, kita isa langsung berjemur di batu-batu yang luar biasa kerennya. Batu-batunya bentuknya bergelombang, dan terbentuk secara alami disana.
Batu-batuannya loh

Nyantai bentar sambil mengeringkan celana

Pemancing

 Panas-panas gini, harus cari tempat yang adem buat istirahat. D tempat ini nih, kaya sudah disediakan tepat istirahat loh, bagaimana tidak ada pohon yang posisinya strategis banget, dahannya bisa buat duduk, dan dibawahnya bisa buat masak-masak dan makan siang. Lebih enak lagi kalau sambil bakar-bakar ikan...yuuumieee...
Poisi enak buat berteduh
Bakar ikan buat makan siang
Cuaca panas yang memang menyengat tidak akan terasa ketika badan ini sudah masuk ke dalam air laut, buat snorkling dan menikmati terumbu karang dengan mengapung. Harus hati-hati, karena arus saat sedang pasang lumayan kuat juga buat mengombang-ambingkan badan.
Terumbu karang

Mukanya ngga kelihatan pas nyelam, case kameranya yang ngga yoi nih..heee

Paling asik kalau lagi surut, hampir seluruh terumbu karang yang ada terlihat. Ujung-ujung terumbu karang terlihat indah, bisa sepuasnya foto. Eksplor saja ke seluruh tempat disana, lebih seru lagi. apalagi sampai ke ujung pantai yang langsung melihat ke Samudera Hindia....asik..


Air yang bening bikin terumbu karang kelihatan
 Waktu sudah surut, coba main dan berkeliling. keindahan bawah laut yang tadinya tidak terlihat, bakanmuncul. seperti batu dibawah ini nih.

Di sala satu spot, kita bisa merasakan seperti ini
Cipratan air laut yang langsung dari Samudera Hindia, lebih asik loh rasanya. Rasa asinnya lebih mantap, apalagi kalau di tambah kecap, bisa buat makan heee....coba deh...jangan ding, cuman bercanda.

Tapi harus hati-hati ya saat jalan di sekitar batu ini. Agak licin,mending saling berpegangan dengan teman kita, kalau memang ragu-ragu saat mau ke bebatuan ini.
Ujung batu

Malu pose atau takut

Indonesia di dadaku

Bos Klintung

Negeriku Indonesia, Aku Cinta Pacamu

COba kalau sunsetnya didepan mata, asik kali ya

Menunggu cipratan air laut

ikut nampang sebentar

tounge

Ujungbatu

Pantai saat surut

batu karang

Sehari rasanya belum puas bermain disni, camping saja bisa
 Membaca tulisan dan juga melihat gambar ngga bakal sempurna. Bakal lebih asik kalau datang sendiri ke tekape. Bisa merasakan sensasi naik gunung, dan mantai....

Yuk main ke Cilacap

Jumat, 30 Oktober 2015

Nyore di Waduk Kubangkangkung

Waduk Koebangkangkung


Papan Nama Wisata Kubangkangkung
Ngopi sambil menikmati sore paling asik memang di tempat-tempat yang menyatu dengan alam. Duduk di kursi bambu, dibawah pohon rindang dengan semilir angin...senangnyaaa....

Ngga perlu camping dan mendirikan tenda di bukit Trianggulasih, atau ke tempat yang saat ini lagi ngetren pemandangannya di sana yang jauh-jauh. Ngga usah jauh-jauh, cukup di Cilacap saja, di Waduk Koebangkangkung Kecamatan Kawunganten.
 
Warga memancing di Waduk Koebangkangkung yang airnya turun akibat musim kemarau panjang
Wisata waduk ini memang belum lama dibuka untuk umum. Karena sebelumnya air waduk ini digunakan untuk sumber air warga sekitar dan juga untuk sumber air bagi tumbuhan yang ada di sana.

Lokasinya berada di perkebunan karet milik PT Perkebunan Nusantara IX Kawunganten. Belum tau tempatnya? Jika dari arah kota Cilacap, kita menuju arah jalan ke Kawunganten, nanti di pertigaan Jalan Raya Jeruklegi, jika dari arah Cilacap jangan ambil jalan lurus, tapi belok ke arah Kawunganten ya. Kalau Lurus bakal ke Wangon.

Dari arah Wangon pun sama, menuju ke Jalan Raya Kawunganten. jalannya udah enak, paling saat ini lagi ada beberapa perbaikan. mungkin sebentar lagi sudah selesai. Pokoknya jalannya udah kaya jalan tol deh.


Dari pertigaan itu, sekitar 10 km lebih deh. melewati rumah warga dan masuk ke perkebunan jati dan akhirnya karet. Di sekitar hutan ini nanti kita akan mencapati beberapa warung kelapa muda di pinggir jalan yang menggunakan bambu, bukan itu tempatnya. Walau warung-warung itu juga ngga kalah asiknya dengan waduk ini. Tapi cobaik juga ke waduk, bakal lebih asik dan menikmati lebih banyak keasyikan.

Jangan sampai ke bablasan ya, pokoknya sebelum perlintasan kereta api, di sebelah kanan jalan jika terlihat banyak pagas dari seng, maka itu tempatnya.  Waduk Koebangkangkung, yang pintu masuknya sangat unik bangunannya.
Pintu masuk Wisata Koebangkangkung


Tiket masuknya murah aja, satu orang Rp 2.000 dan untuk parkir sepeda motor Rp 1.000 dan untuk mobil kemarin saya lupa menanyakannya. heee..mampir aja deh...

Udah deh masuk aja dan cari tempat untuk parkir yang enak.dan jalan menikmati sore di Waduk Kubangkangkung.
Kayu yang dijadikan tugu di Waduk Koebangkankung

Kita bisa jalan-jalan dulu loh mengelilingi waduk yang pohon-pohonannya pada miring-miring ini.. Ngga perlu khawatir jalannya berlumpur saat hujan, atau berdebu saat musim kering kayak gini. karena sudah ada jalan setapak.

Jalan Setapak diantara pepohonan
Atau juga bisa langsung memilih tempat untuk duduk-duduk menikmati alam, sambil pesen kopi atau kelapa muda di warung yang ada di tempat wisata ini.

Deretan warung yang menyediakan makanan dan minuman

 Nyari tempat buat ngopi, ngga bakal susah. apalagi kalau lagi sepi sih. heee....soalnya banyak tempat duduk yang sengaja disediakan buat para wisatawan yang dateng ke sana.

Satu bentuk tempat duduk buat ngopi, sayang keamrin ngga ada temen buat ngopi..jadi foto aja tempatnya
Banyak juga loh wahana yang disediakan disini. tapi hampir semuanya sih harus bayar lagi. Ada kapal wisata, bebek kayuh, terapi ikan, mandi bola, kereta wisata. Heee..lupa, harga-harganya. Tapi pas kemarin lagi main ke sini, air waduknya lagi susut sampai 3 meter, jadi kapal yang bisa buat keliling-keliling hanya disandarkan saja.
Bebek kayuh lagi disandarkan, airnya nyusut broo

Kayaknya asik kalau airnya lagi tinggi...main lagi ah kalau pas udah musim hujan

Dermaga buat naik kapal

Gazebo dan juga kereta mini

wahana mandi bola
Terapi Ikan
Jembatan Teratai...harusnya banyak teratai nih
Kayaknya dari jembatan ini, di tengah ya kalau sore bisa menikmati sunset loh. Walau mungkin tidak penuh, karena terhalang oleh pepohonan yang ada. yuk coba...

So...kita yang ada di Cilacap, bisa loh menikmati sore di sini bersama atau saat lagi suntuk bisa juga main ke sini. Hilang deh kegundahan...Musim hujan atau musim kering pun tempatnya tetep asik kok.

Kalau anak Cilacap kota, jangan sore-sore pulangnya, karena jalan di sekitar hutan perkebunan ini kalau malam gelap, karena belum semuanya diterangi penerangan jalan.

Ikon baru di Kubangkangkung


#YukMain

Senin, 19 Oktober 2015

Mau Air Hangat atau Dingin?..tinggal pilih deh

Curug Genting di Wisata Alam Giri Tirta (satu dari dua Curug yang ada)




Berwisata ke air terjun atau curug memiliki sensasi tersendiri bagi kita. Bukan hanya karena ingin pamer foto saja di media sosial, tetapi perjuangan kita kesana sering kali membutuhkan tenaga yang luar biasa.

Tapi tidak semua air terjun seperti itu loh, ada juga yang jalannya cuman sebentar, tapi bisa menikmati pemandangan yang luar biasa. Tak usah disebutkan curug mana, heee...hampir sama dengan curug yang berada di wisata alam di Giri Tirta, Pejawaran Banjarnegara ini.Saya harus berkendara dari Cilacap-Dieng-Banjarnegara. jauh kan.

Wisata alam Giri Tirta ini, kita bisa menikmati tidak hanya satu objek saja loh, tetapi tiga..bayangkan tiga. Kalau kata pepatah, Satu dayung tiga pulau terlampauai...ukhuuy...Ke sini, kita bisa menemui dua curug sekaligus, Curug Genting, Curug Mrawu serta satu sumber air panas Giri Tirta.

Jadi kalai mau main ke sini, kita bisa memilih mau yang panas-panas atau mau dingin-dingin, atau keduanya. Bisaaaa...

Perjalanan kemarin saya lakukan setelah bermain-main di Dieng bersama dengan lima teman seperjalanan. Dari Candi Arjuna Dieng, kita berjalan (kemarin pakai motor) menuju ke arah Desa Batur Kecamatan Batur, ikutin aja jalur itu. kemarin soalnya lagi mbonceng, jadi ngga inget banget. Tapi saya ingat jalannya yang akan menuju ke lokasi tanah longsor di banjarnegara beberapa saat lalu itu.

Kalau mau lebih jelas, nanya saja ke warga sekitar. Udah pada tahu kok. heee...Nanti di perjalanan, kita menemui pertigaan dengan gapura dari besi, ucapan selamat datang di Giri Tirta. Sayang kemarin ngga ke foto, lagi mbonceng sambil ngetik berita. heee

Ikutin saja jalan itu, jalannya ngga bagus-bagus banget, tapi juga ngga rusak-rusak amat. Lumayan lah, masih bisa dilalui. Ada beberapa belokan yang mesti kita tempuh, belok kanan dan belok kiri. Beberapa kali juga kita harus tanya-tanya ke warga, karena tidak ada petunjuk jalan menuju ke arah lokasi wisata alam ini.

Tenang saja, semua orang tahu kok, jadi nanya saja kalu ngga mau nyasar. Kita sempet salah belok, lewat jalan yang aduhai. sampai sepeda motor hampir ngga kuat. Setelah melihat sekitar dan nanya lagi, memang salah jalan, bukan jalan keatas yang dipilih, tetapi lewat jalan setapak dengan dua jalur yang harus dipilih.

Sampai di lokasi parkiran, kita bisa melihat disebrang ada bukit yang sudah ditanami dengan tanaman sayuran, dengan di bawahnya ada aliran sungai yang dari kejauhan pun sudah terlihat bebatuan dengan warna kuning. Akibat dari kadar belerang yang mengalir disana. Tapi bukan bukit itu, tempat curugnya. Kita hanya berjalan beberapa menit saja kok.

Pemandangan dari atas bukit
Dari parkiran itu, kita akan turun sedikit, melewati jembatan bambu kecil diatas irigasi pertanian. Ikuti saja saluran irigasi itu, sesekali celukan kaki kita ke air di saluran irigasi itu, hangat. Hati-hati jalannya, karena di sebelah kanan kita adalah tebing yang kadang curam dan kadang ada tanaman-tanaman pertanian yang ditanam warga.
 
Dari parkiran sepeda motor, turun dikit kok
Jalan setapak menuju Curug Genting, saluran irigasi di sebelah kiri, ladang milik warga di sebelah kanan
Tidak sampai 1 km, kita akan mendapati, guguran batu karena ada penambangan batu disana. Batunya sudah terbentuk tipis-tipis kaya lapis. Hati-hati jalannya, karena bisa saja longsor. Tapi kemarin kita lihat ada pemuda yang menggunakan sepeda motor melewati pematang tersebut. Uwow...padahal, disebelah kanan merupakan tebing yang lumayan curam loh.

Penambangan batu

Ini mas-mas yang lewat di jalan setapak menuju ke Curug

Musimnya memang lagi kering, jadi gemercik airnya Curug Genting, curug yang pertama kita akan temui pertama kali tidak terdengar dari kejauhan. Debitnya yang memang sadang kecil, posisinya juga memang menjorok ke dalam.

Dari atas jembatan besi menuju ke sana, kita terlihat sudah curug genting yang berada di tengah-tengah tebing bebatuan. Jembatannya lupa difoto, karena masih buru-buru mau ngetik hee (alasan ya..).

Potret Curug Genting dari atas jembatan

Sampai disana sudah sepi, tidak ada wisatawan atau penjual makanan yang masih berada di sana. Di lokasi sini juga sepertinya sudah mulai ditata, terlihat dengan sudah adanya gazebo untuk beristirahat, tempat duduk dari bambu untuk menimkati indahnya curug, dan juga tidak jauh dari sana ada WC.

Awalnya, saya kira air curug genting ini memang mengeluarkan air panas, karena dari atas jembatan saya melihat bebatuan berwarna kuning, efek belerang. Tetapi saya salah sangka. Air curugnya tetap dingin, sedangkan aliran air panasnya ini berasal dari sumber air panas Giri Tirta yang lewat melalui saluran irigasi dan menyatu di dekat aliran air curug. 

Aliran air hangat yang berasal dari Giri Tirta, berbaur menjadi satu di aliran Curug Ginting
So...kita tinggal pilih, mau menikmati air dingin atau air hangat. Bisa dua-duanya kaan. Kalau capek berjalan, berendam dulu di air hangatnya. Tidak terlalu panas, mungkin karena memang agak jauh dari sumber air panasnya. Awalnya mengira airnya memang panas sekali, karena uap airnya sangat tebal, ternyata hangaat. Rencana awal sih mau mandi-mandi, tapi karena sudah sore, jadi berendam kaki saja dan cuci muka.
  
Curug Ginting dengan ketinggian sekitar 70 meter, debit airnya lagi kecil
Menikmati sensasi air hangat dan dingin

Pertemuan air panas dan dingin
Waktu yang mepet sudah menunjukan pukul 17.00 lebih, membuat saya memilih berendam dan menikmati sensai air hangat di Curug Genting ini. Sedangkan teman-teman saya yang berempat menuju ke Sumber Air panas Giri Tirta dengan berjalan kaki. Saya hanya menitipkan kamera saya kepada teman saya itu, untuk mengabadikan air panas Giri Tirta.

ALiran Air Panas Giri tirta
Sayang memang ke lokasi ini tidak semua lokasi kita jamah. Namun, bagaimana lagi, waktu sudah Magrib warga sekitar yang kita temui pun mengingatkan agar jangan malam-malam pulangnya. Selain itu kita masih harus menempuh perjalanan lagi, sampai Cilacap. So..akhirnya pulang, walau dengan berat hati, karena belum melihat secara langsung Sumber Sir Panas Giri Tirta, dan Curug Mrawu. Kapan-kapan pasti ke sana lagi, dan luangkan waktu sebaik mungkin.

Sampai di Parkiran, hari sudah gelap. tapi masih ada petugas yang menunggu kami. Walau tidak ada pos tiketing disana, hanya ada gubug bambu, petugas yang sepertinya pemuda asli desa tersebut menarik uang parkir masing-masing sepeda motor Rp 2.000 dan uang masuk Rp 5.000. Total semuanya Rp 36 ribu, di tawar pun tidak boleh. haaaa...

Kamis, 15 Oktober 2015

Menikmati Padang Savana Gunung Pangonan

Candi Arjuna dari Bukit Gunung Pangonan


Menjelajah Dataran tinggi Dieng memang tidak ada puasnya. Selalu saja memberikan sesuatu yang baru dan menarik jika ke sana. Bukan hanya Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Gunung Prau saja, atau mencari Golden Sunrise di Sikunir, tapi ada tempat yang tidak kalah asiknya. Menjelajah padang Savana di Gunung Pangonan atau Lembah Sumerep

Mungkin sudah banyak yang tahu, tapi bagi saya itu suatu penjelajahan baru. Apalagi bersama dengan teman yang baru ditemui di sana. Mereka aman kok, baik-baik dan tidak sombong.

Gunung Pangonan, tingginya sekitar 2.300 mdpl, hampir sama seperti Sikunir lagi. Kalau ke sini bisa beberapa jam saja naik turun, atau kalau makin enak memang camping di sana. Tapi kemarin naik turun sampai menikmati indahnya padang savana disana sekitar 4 jam. Belum cukup sih.

Banyak jalan menuju ke Gunung Pangonan ini. Diantaranya lewat Tlaga Merdada Desa Karangtengah, bisa lewat Desa Buntu, lewat Kawah Sikidang, atau lewat Musium Kailasa Dieng. Kalau saya bersama dengan empat teman baru saya ini lewat belakang Musium Kaliasa dari Candi Arjuna.



Musim Kaliasa Dieng
Dari Musium Kaliasa, kita menaiki tangga sebentar sampai nanti masuk ke kebun kentang milik penduduk. Hati-hati masih ada tanaman warga loh, kita lewat pinggir-pinggirnya aja sampai nanti sampai di jalan yang lumayan besar dan berdebu (maklum, lagi musim kemarau). Dari situ, kita bisa lihat di sebrang jalan, ada jalan setapak yang sduah di semen naik ke atas bukit. Untuk ke sana, kita akan melewati pipa besar, tapi santai kita ngga usah naik-naik ke pipa, karena hanya melewati di bawahnya.


Awal naik sudah jalan setapak
Jalan setapak yang di semen ini sudah hampir sampai atas loh. Lumayan buat yang ngga suka dengan tanah. Tapi buatku, ini lebih berat dan sulit, karena kalau ngga hati-hati bisa terpeleset. soalnya sepatu ku, kaya ngga cocog di jalanan yang seperti ini, heee... Apalagi kalau turun harus -hati-hati ya.. lari saja broo...(tidak saya sarankan sih, kasihan kakinya nanti..heee)


Nengok ke belakang sebentar deh, kalau lagi cerah bisa dapat pemandangan Gunung Prau full
Pertama jalan aja sudah langsung naik, namanya juga naik gunung, heee..tapi noleh sebentar deh ke belakang. Kalau lagi cerah, bakal melihat pemandangan yang sangat menajubkan. Ya, terlihat Gunung Prahu yang sudah melegeda bagi para pendaki gunung. Ini bisa jadi penyemangat, dan obat capek, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke pasang Savana.

Petunjuk arah
Di jalan yang sudah di semen ini, sudah ada petunjuk arahnya loh. Savana adan ke Sunrise Pangonan. Tapi karena kalau melihat Sunrise harus pagi-pagi, jadi saya lurus saja menuju Savana. Mungkin kapan-kapan bisa camping dan naik ke posisi yang bisa melihat sunrise. oke, jadwalkan!!

Di jalan, banyak anak muda mudi yang baru turun. Pakainya sandal atau sepatu biasa, jadi sepertinya medannya memang ngga terlalu ekstrim.So nikmati saja perjalanannya.

Jalan bersemen ini memang belum sampai ke Savananya. Tapi lumanyan panjang yang sudah dibuat jalan setapak. Bahkan, di jalan ada beberapa tumpukan semen yang pastinya bakal digunakan untuk membuat jalan disana.Tapi jangan terus ngikutin jalan setapak ya, ada yang belok ke ke kanan dan menuju ke atas. saya belum tau ke mana, karena ngga ada arahnya, mungkin ke puncak Sunrisenya kali. kapan-kapan cek coba. Kalau mau lihat ke padang Savananya lurus aja ngikutin jalan setapak dari tanah.

semen-semen untuk membuat jalan setapak
Sepanjang jalan menuju ke Padang Savana Gunung Pangonan, tanamannya masih rimbun dengan berbagai jenis tanaman. Malah ada spot yang bisa lihat kawah Sikidang.


Kawah Sikidang

Hanya saja karena lagi musim kering, jadi debunya lumayan. Jadi, kalau jalan rombongan harus hati-hati ya, kasihan yang belakang. Kena debunya. Disarankan pakai masker atau penutup hidung.

Perjalanan yang lumayan nanjak dan berdebu sekitar 35 menit, ini akan terbayarkan dengan melihat keindahan padang savana dari kejauhan. Luasnya luar biasa, mungkin bisa buat bikin 20 lapangan sepakbola, lebih mungkin.
 
Padang Savana Gunung Pangonan dari kejauhan
Tak sabar rasanya ingin langsung turun dan berguling-guling menikmati padang savana yang luar biasa indahnya itu.Tapi harus turun melewati turunan yang lumayan tanaj, jadi hati-hati sampai bawah. Melewati pohon cemara yang hijau dan rindang, sampailah ke padang savananya yang sangat luas. Nikmati padang savana mu...uwoow

Pintu menuju ke Padang Savana
Anak-anak muda yang menikmati padang savana

adem

Bersama teman baru

Terlihat di belakang objek merah ada pepohonan yang ada di tengah padang savana

Maap, modelnya hanya ini saja

Ayo ke sini

Asiknya main ke padang savana ini, apalagi ramai-ramai bareng temen-teman. akan lebih seru. buat foto-foto juga asik. Apalagi bawa makanan dan dimakan bareng-bareng ke sini, lebih menyenangkan.

#Yuk Maiiiiiinn....