Minggu, 05 Agustus 2018

FixOn, Hotel Kapsul Ramah Dikantong




Dolan ke Purwokerto, kadang saking asiknya bisa sampe malem. Ya kalau ngga capek, pulang lah ke Cilacap. Tapi kalau sampai harus menginap, kadang bingung juga mau kemana.

Eits, tapi sekarang ngga usah bingung-bingung lagi nih, kalau menginap di Purwokerto. Apalagi buat para backpacker yang kantungnya pas-pasan, seperti saya. Direkomendasikan nih hotel kapsul, FixOn Capsule Hotel. (Oh ya saya ngga di endorse ya, cuman pas nginep ke sana enak sih, jadi share saja).

FixOn Capsule Hotel Purwokerto ini ada di Jalan HR Bunyamin atau jalan utama menuju ke Baturraden, persis di pinggir jalan, jadi mudah dijangkau. Lokasi tepatnya antara pom bensin Pabuaran, kanan jalan atau sebelum tabel nine.



Jadi konsep hotelnya ini memang buat backpacker gitu, tapi buat keluarga bisa juga sepertinya. Satu penginap satu kapsul atau satu tempat tidur. Ukurannya, 1,5 meter x 2 meter lebih dikit. Pas buat slonjor lah. Kuncinya juga sudah pakai kartu, kaya di hotel-hotel biasanya ituh, jadi aman lah.



Satu kamar isinya ada beberapa kapsul, kalau yang saya tempati isinya 8 kapsul. Empat sebelah kanan, empat sebelah kiri, masing-masing sisi ada empat kapsul. Dua kapsul dibawah, dua diatas. jadi kaya susun gitu. Kalau rame-rame sama temen pesen se-kamar bakal seru juga tuh.

Satu kapsul yang kita tempati ini, Isinya ada tempat tidur springbed, satu bantal, selimut, kalau AC bersama, colokan, exhouse, dan handuk. Cuman ngga ada jendela yang bisa kita lihat pemandangan, dan lihat matahari. Jadi ngga tahu udah siang atau belum, kalau ngga lihat jam. Kalau saya kebangun, karena orang sekamarku pada ribut.



Untuk kamar mandinya bareng-bareng penghuni lain, bersih kok, pake shower yang bisa air panas dan dingin, lalu closet duduk. Musalanya juga bareng-bareng. Begitu juga dengan televisi, nontonnya bareng-bareng di ruang makan.

Harganya, kalau lihat di aplikasi pesanan hotel sangat bervariasi. Tetapi kemarin saya dapat Rp 85 ribu lewat aplikasi traveloka. Fasilitas yang dapat mulai wifi gratis, sama sarapan, kopi, air mineral.

Sarapannya pun sederhana (banget). Nasi kering tempe, sayur kulit melinjo, abon yang dibungkus daun pisang, lalu kerupuk. Ya wajar lah ya.. harganya juga segitu, kok mau sarapan dengan aneka menu seperti di hotel-hotel harga ratusan. Mending dapat sarapan, buat ngganjal-nganjal perut.




Untuk keamanan barang-barang kita pada saat mau ditinggal keluar buat jalan-jalan di Purwokerto, pengelola juga menyiapkan loker dengan nomor sesuai kamar kita. Tapi, pengunjung juga pada saat akan masuk hotel, diminta deposit loker sebesar Rp 25 ribu. Uangnya dikembalikan pada saat kita  pulang.

Puas sih nginep disini. Meskipun harganya murah, tetapi hotel kapsul ini terlihat ngga murahan. Jadi kalau penasaran, mampir saja ke sini, sendiri atau rame-rame, pasti asik.

Cuman buat info saja sih, kemarin pas pesen kan kapsul bagian atas. Bikin merinding sih...apalaagi aku lumayan takut ketinggian. Jadi, mending milih yang bawah deh...heee...kalau atas bikin merinding



Jumat, 20 Juli 2018

Paralayang, Membayangkan Saja Sudah Merinding

Paralayang Majalengka
Merinding...

Itu kesan pertama, ketika Mba Emon, mengajak saya untuk ikut Paralayang. Meski hanya lewat pesan singkat di aplikasi WA, tetapi saya yang punya phobia ketinggian ini tetap saja merasakan kengerian. Merinding di telapak kaki dan tangan.

Meskipun demikian, tetap saja saya penasaran dengan olahraga ini. Dulu pernah akan menjajal pada saat di Batu, Malang, sayang (apa bersyukur ya?) kalau kesorean. Kali ini kesempatan lain lagi untuk menjajal olahraga extrem ini.

"Di Majalengka, kemarin saya lihat IG-nya Ridwan Kamil...bla...bla...bla...," kata Mba Emon, ketika saya tanya dimana lokasi kita akan menjajal nyali ini.

Saya pun tertarik, apalagi dikuatkan dengan compang camping di lokasi, banyangannya pasti seperti di hutan. Tetap ya, rasa merinding di telapak kaki dan juga tangan masih sering 'kumat' kalau membayangkan diatas udara.

Saya tentu saja kebagian jok belakang
So cuuzz aja dari Cilacap ke Jakarta-Depok bertemu teman-teman yang lainnya, karena teman lainnya ada di sana semua. Saya yang anak daerah mengalah ke sana. Berlima, kami menempuh perjalanan sekitar 6 jam dari Depok menuju ke Majalengka ditempuh sekitar 6 jam. Letih, memang, tapi menyenangkan, karena sudah sangat penasaran dengan permainan yang baru akan dijajal. Pengalaman pertama, pasti.

Motret di dalam mobil yang melaju, dengan kamera seadanya
Memasuki Gunung Panten, lokasi paralayang yang ada di Desa Sidamukti, Kecamatan Munjul Kabupaten Majalengka, langsung disuguhi pemandangan yang sejuk, dan asik serta pas mau sunset dengan warna jingga yang keren. Semakin semangat jadi buat paralayang.

Portal sebelum nanjak ke lokasi paralayang
Sebelum memasuki, ke area wisata Paralayang, ada portal. Disini bayar parkir Rp 5.000 untuk mobil, ngga tahu kalau untuk sepeda motor, kemarin ngga nanya juga. Disini juga diatur, kendaraan yang naik turun, soalnya petugas sudah menggunakan HT untuk komunikasi. Jadi waktu ada mobil-mobil yang turun, kita yang bakal naik, diminta menunggu beberapa saat.

Sampai disana karena sudah sore, jadi kita carilah posisi buat camping dan nanya-nanya Paralayang. Nah, ternyata, disana tidak seperti yang dibayangkan, tidak ada camping ground seperti yang disangkakan. Kalau mau camping ya di gazebo-gazebo...wkwkwk...nah loh.

Tapi ada satu tempat lagi disana, namanya Paraland, disitu ada penginapan dan tempat camping juga, meski bayar. Dengan berbagai pertimbangan, akhirnya, sewa satu tempat penginapan, dan gratis buat camping di halaman depannya, yeee...Penginapannya pun unik. Tapi tetap deh, kita milih tidur ditenda...

Tinggal pilih saja mau tidur dimana
Bahagialah sudah bisa camping, makan besar dengan menu shabu-shabu komplit yang dibuat sama Mba Emon dan Mba Goslenk. Kenyang, tapi tidak langsung tidur, keliling-keliling dulu sekitar Paraland yang kece ini, sambil cekrak, cekrek poto2. Ngga bakal kehabisan ide buat foto di sini, banyak spot asik, dan instagramabel.

Memasak adalah hal paling asik saat camping

Kembali ke soal Paralayang, kami sempat menanyakan ke pos paralayang, jika mau bermain paralayang harus booking terlebih dahulu. Pasalnya, instrukturnya bukan dari wilayah Majalengka, tetapi daerah lain. Tapi belum ada keputusan bisa atau tidaknya. Semoga instrukturnya datang Minggu pagi ya.

Paginya, kami kembali menanyakan. Ternyata...tempat landingnya digunakan untuk kegiatan motorcroos...jadi...alias.. TIDAK BISA Mencicipi Paralayang. padahal anginnya, katanya lagi bagus. Tetap saja, tidak bisa. Baiklaah...artinya belum keberuntungan kami bermain Paralayang.

Ini lapangan buat landingnya, lg buat parkiran dan motorcross
Pelajaran yang bisa dipetik dari jalan-jalan kali ini, adalah kalau mau main Paralayang di Majalengka harus booking terlebih dahulu, untuk memastikan kuota dan bisa tidaknya.  Mau tau bookingnya kemana, banyak kok cari aja sama mbah google.

Disini ngga ada foto paralayang, karena memang ngga bisa main sih. mau ambil foto orang lain, nanti kena hak cipta. Jadi foto-foto yang kami cepret saja ya.

Menikmati bulan sambil leyeh-leyeh di Paraland

Makam malam kita, Shabu-shabu
Sunrise

ini adalah kami

Minggu, 08 Juli 2018

Kemit Forest, Wisata Alam yang Bikin Balik Lagi

Playground

Kemit Forest, dua tahun terakhir ini lagi ngehits banget di media sosial, terutama Instagram. Sudah lama pingin nulis ini, sejak pertama kali ke sana, tahun 2017 lalu. Tapi kok ya malesnya..minta ampun..heee..

Kemit Forest Education, begitu nama resminya. Berada di Desa Karanggedang Kecamatan Sidareja Kabupaten Cilacap. Wisata edukasi yang lagi hits banget. Saya juga tahu dari teman-teman dan dari media sosial Instagram.

Kalau dari Cilacap kota, menuju ke Kemit Forest yang berada di hutan pinus ini ditempuh sekitar 1,5 jam (ukuran naik motor saya ya hee..).., lumayan bikin bokong panas (kalau naik motor sih). Meski perjalanan lelah, karena jauh, ditambah dengan jalannya yang kurang 'enak' semua terebus sesampainya di loksi wisata ini. Tiket masuk ke lokasi wisata ini sekarang informasinya Rp 5 ribu per orang.

Sejuknya angin diantara pohon-pohon pinus ini membuat, badan kembali segar sesampainya disana. Lelah perjalanan tertebus, mendengar desahan antar dedaunan yang saling beradu karena angin.

Asik kan
Banyak wahana yang bisa dicoba disana, ada sekitar 18 wahana. Ada yang gratis, dan rata-rata berbayar lagi. Tapi ngga nyesel kok, meski bayar lagi, karena bakal dapat foto keren-keren dari pemandu yang memang sudah lihai. Bayarnya sekitar Rp 10 ribu an lah.

Panahan

Pemandangannya Asik kan

Sebut saja ada swing shaker, paint ball, aechery, flying fox, sepeda gantung, playground, ketapel anry bird, titian tali, the lounge, dan ada lainnya. Ada juga cafe geong, ayunan gantung,  ada juga selfie deck yang bisa digunakan untuk swafoto dengan landskap pemandangan terbuka. Terakhir, camping pun bisa..ini nih yang nanti diulas sendiri, heee...

Ayunan Gantung


Dulu awal ke sana ada kandang kelinci, tapi awal tahun ini ke situ lagi sudah ngga ada. Mungkin dipindah ya, saya belum tahu...heee

The Lounge

Kalau capek tidak usah khawatir, banyak tempat duduk yang adem, apalagi dengan dipayungi payng warna warni. Asik deh pokoknya. Kalau lapas, tinggal keluar sebentar dari lokasi, atau tepatnya di depan komplek wisata, banyak warung-warung berjajar. Enaknya, sih bawa makanan sendiri dan tikar, jadi bisa serasa piknik-piknik gitu...heee

Tepat Istirahan yang nyaman

Selfie Deck


Saking asiknya lokasi Kemit Forest, ngga bakal biki bosen dateng ke sini, bikin nagih. Sudah beberapa kali saya ke sini, meski perjalannya jauh...Mau coba wisata alam yang asih di Cilacap, ini bisa jadi satu alternatifnya...yuk cuur...

Rabu, 04 Juli 2018

Segernya Ciblon di Kedung Pete



Berbahagialah kalian yang ada di Banyumas. Sangat mudah ketika akan ciblon, alias ceburan di sungai atau curug.

Masih banyak sungai yang airnya bening, dan seger banget. Berbeda dengan di tempat saya ini, haaa...sungainya sudah kaya kopi susu (ngga tega, kalau mau mandi, nyemplung kaki aja ngga tega..heee).

Kalau ke Purwokerto, cari yang paling mudah dijangkau, ya di Kedung Pete, yang lokasinya sekompleks Curung Telu. Atau di Curug Bayan, tapi karena seringnya rame, jadi enaknya di Kedung Pete. Berkali-kali ke sana tidak akan bosan.



Kedung Pete ini, satu komplek dengan Curug Telu. satu tiket masuk, bisa menikmati keindahan dai tiga lokasi, Sendang Bidadari, kedung Pete dan Curug Telu. Lokasinya yang berada di  Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden. Kalau belum tahu lokasinya, cari di google maps sudah ada kok...hee...

Desa Karangsalam yang masih  berada di lereng selatan Gunung Slamet ini membuat udara disana masih sejuk. Banget malah. Tidak hanya udaranya yang sejuk, aliran air yang ada di Kedung Pete pun seger dan ngga bikin mata perih. Bakal mengigil kalau kelamaan mandi disini. Tenang aja, ada banyak warung-warung yang bisa untuk menghangatkan diri, dengan mengupi-ngupi dan makan mendoan anget.

Kalau ciblon disini, enaknya pagi-pagi, ya ngga pagi banget sih. Sekitar pukul 08.00 WIB sudah buka. Soalnya kalau pagi, masih jarang-jarang yang pada ciblon disini. Biasanya pada siangan, sepertinya menghindari agar tidak terlalu dingin sih.

Selain itu juga,  kalau lagi ke sini, selalu sepi, entah karena memang airnya yang dingin, dan dalem bikin pada males ciblon, atau karena memang wisatawannya pada seneng ke Curug Telu langsung atau ke Sendang Bidadari yang ada diatas Kedung Pete. Entah, yang penting pilihanku, ciblon di Kedung Pete, segeeeer e pool.

Kedung Pete

Kolam di Kedung Pete ini lumayan besar, kalau mau loncat dari bebatuan atau dari jembatan juga bisa. Karena kedungnya lumayan dalem juga. Sekarang  sudah ada tempat buat njebur, jadi mending enak.

Penyewaan Ban

Kalau yang tidak bisa berenang juga tidak usah khawatir, masih bisa berenang-renang atau bermain air. Ada penyewaan ban di warung-warung yang berjualan di sana. Kalau mau ganti juga jangan khawatir, karena ada juga toilet jadi bisa ganti baju deh.

Mau coba kesegeran dari Kedung Pete...cuus aja lah. Kalau ngga pingin ciblon, main kesini, menikmati pemandangan alamnya juga okeh. Bisa foto-foto buat menuh-menuhin feed Instagram.

Icon Curug Telu





Sendang Bidadari




Kamis, 22 Maret 2018

Belum Afdol Jika ke Hutan Payau, Tanpa Mencicipi Jus Kiwel


Penasaran apa itu Jus Kiwel?
Sinih...main saja ke Cilacap, terus ke Wisata Hutan Payau yang berada di Kelurahan Tritih Kulon Kecamatan Cilacap Utara.

Lokasi wisata yang sudah bebenah, dan mempercantik diri, dengan berbagai wahana ini memiliki kuliner khas. Tentu saja olahan makanan dari buah mangrove, yang memang menjadi ikon Hutan Payau ini.
Pohon Nipah
Ya, di hutan Payau ni, isinya semua tanaman mangrove. Jus Kiwel ini diolah dari buah nipah. Masyarakat sekitar menamainya dengan Kiwel.

Tahu pohonnya seperti apa? Tanaman endemik di rawa ini, namanya  Nipah atau Nypa fruticans. Bentuknya hampir sama dengan pohon kelapa, tapi lebih pendek dan tentu tumbuhnya di rawa atau hutan bakau. Pohon nipah ini memiliki manfaat mulai dari daun, tangkai daun, hingga buahnya.
Buahnya berbentuk seperti belimbing bergerombol, dan warna coklat. tapi pas dibelah ada buah seperti kolang-kaling.

Buah Nipah disebelah Bangau Payau
Buah yang dimanfaatkan untuk Jus Kiwel ini harus yang masih muda, agar mudah di 'blend'. Campur sedikit dengan air gula, susu dan jeruk nipis. Rasanya manis, dan menyegarkan. Ada sensasi  ‘krenyes-krenyes’ yang berasal dari sari buah nipah ini karena tidak bisa di-blend sampai halus.
Hesti Purbaningsih (40) warga RT 5 RW 11 Kelurahan Tritih Kulon Kecamatan Cilacap Utara , pertama dan satu-satunya pedagang di Hutan Payau yang memiliki ide untuk menjual Jus Kiwel, olahan dari mangrove.
Ibu tiga anak ini mengatakan jika mengolah buah nipah ini karena anak-anaknya menyukai biji buah yang rasanya manis ini. Suaminya pun sering mencari buah nipah yang biasa ditemui di sekitar hutan payau.


“Tadinya saya hanya mengolah menjadi es buah saja, tetapi saat dijual kurang banyak diminati oleh wisatawan, jadi saya berpikir untuk berinovasi membuat makanan lainnya,” katanya.
Berbagai percobaan dilakukan, sampai akhirnya dicoba untuk dibuat jus. Beberapa kali percobaan ‘resep’ jus kiwel ini diujicoba. Mulai dari hanya diberi air gula saja, ditambah susu, hasilnya pun kurang, lalu dicampur dengan buah-buahan, seperti strowberi hasilnya pun masih sama.
“Pencicipnya suami dan anak saya, setelah mencoba dengan campuran jeruk ini ternyata rasanya pas. Jadi saya memutuskan untuk menjual jus kiwel ini di warung,” katanya.


Penasaran rasanya, main saja ke Hutan Payau. Warungnya bu Hesti ada diujung lokasi wisata ini. Kalau dari pintu utama, mentok sampai ke dermaga, lalu berjalan sekitar 20 meter ke arah sebelah kanan jalan. Disitu ada warung yang terbuat dari bambu yang dibuat sedemikian apik, sehingga diantara hutan mangrove ini dibuat tempat nongkrong asik.

Ini dermaga, bberjalanlan ke sebelah kanannya

Pintu menuju ke warung Bu Hesti

Menimati jus kiwel, sambil melihat pemandangan sekitar hutan mangrove, aktifitas para nelayan, dan juga semilir angin. Apalagi tempat nongkrong yang disiapkan Bu Hesti dan suaminya sangat asik. Bakal betah deh ngobrol ditemani dinginnya Jus Kiwel.

Di Warungnya Bu Hesti ada tempat nongkrong kayak gini loh..asik kan, sambil menikmati dinginnya jus Kiwel


Mau Ke Paris?...Ke Kediri Aja dulu...



Siapa sih yang ngga kepingin ke Paris sana...jalan-jalan, sambil foto-foto di tempat-tempat yang besejarah dan keren tentunya.

Nabung, sampai puluhan tahun mungkin belum tentu ke sana, tahu kan..butuh duit segepok. eh,..tetapi segalanya bisa terjadi diing. Daripada jauh-jauh mainnya, mending main-main dulu lah di sekitaran Indonesia (mentang-mentang duit pas-pasan).

Cari saja tempat-tempat yang mirip-mirip dengan tepat wisata yang ada di luar negeri. Banyak kok di Indonesia, kan...googling aja deh. Di deket Cilacap, khususnya Banyumas bahkan ada satu tempat yang didalamnya kita sudah serasa keliling kekeluar negeri..ya mana lagi, tempat yang lagi ngehits banget Small Word yang ada di Baturraden Banyumas.

Setapsiun Nganjuk
Tapi, ini ada tempat yang iconik banget yang serasa lagi di Paris. Lokasinya agak jauhan dari Cilacap. Kudu naik kereta ke arah timur sekitar 6 jam, sampai ke Nganjuk. Lalu naik angkutan lagi sekitar satu jam. mana hayoo....Yup, Kediri Povinsi Jawa Timur.

Abaikan Modelnya ya
 Nah...kalau sudah tahu clue lokasinya, pasti bakal tahu tempat apa yang bakal didatangi. Yuhuu,,,,Simpang Lima Gumul Kediri yang sangat keren, dan tentu saja sangat mirip dengan yang ada di Prancie, apa namanya...Arc de Triomphe yang ada di Paris.

Modelnya hanya ini..maapken
Katanya sih ini dibangun sekitar tahun 2003 dan baru diresmikan sekitar tahun 2008. Lokasinya memang ada di lima persimpangan, makanya disebut dengan Gumul Simpang Lima. Bangunan yang sangat artistik ini terletak di Desa Tugurejo Kecamatan Ngasem Kabupaten Kediri.

Pertama kali ke sana, memang rasanya uwow banget, memang bangunannya sangat instagramable banget deh. Asik buat foto-foto pastinya. Dari arah depan, belakang samping, atau arah lainnya. Apalagi waktu ke sana ngga ada tarif masuk, hanya bayar parkir saja (untung bawa duit, soalnya dompet surat2 dan lainnya ketinggalan di rumah teman).

Yuk..ke Kediri...Lagi

iseng pake Polaroid

Saya tidak tahu bisa naik sampai keatas bangunan atau tidak. Kemarin sih saat ke sana ditutup...ramai banget juga, lagi ada acara yang anak-anak.

Saran saja kalau ke sini bawa payung atau topi, atau penutup kepala deh. Pas ke sana lagi panas-panasnya, matahari ada diujung ubun-ubun. Jadi silau dan panas menyengat banget. Tapi asik kok. Berteduh di pohon-pohon pinggir trotoar.

Kendaraan semua diparkirkan di tempat tersendiri, ada di sebrang jalan. Dari area parkir, menuju ke bangunan ini, kita tidak perlu tengok kanan kiri menunggu kendaraan sepi, soalnya ada penyebrangan bawah tanah. Adem dan Aman. Di dalam trowongan juga banyak foto-foto sejarah, jadi nambah pengetahuan kita sih.

suasana di dalam trowongan

Pintu masuk ke Trowongan


Perjalanan  ini sebenarnya kami lakukan setahun lalu, waktu menghadiri perkawinan teman yang ada di Kediri. Daripada bengong di rumahnya, mending jalan-jalan, pinjam motor. Sayang, dompet dan juga kartu ATM ketinggalan, meski ada uang seadanya. Jadi ngga bisa guling-guling atau belanja-belanja ke tempat lainnya di Kediri. Hee...

Senin, 19 Maret 2018

Jingga di Dermaga Sleko



Cahaya jingga matahari saat menuju cakawala memiliki keindahan tersendiri yang sayang jika dilewatkan. Langit kuning kemerahan ini menjadi daya tarik tersendiri bagi kita untuk menikmati sore.

Indahnya langit sore ini bisa dinikmati di beberapa lokasi di Cilacap, satu diantaranya di dermaga penyebrangan Sleko. Hampir setiap sore, jika cuaca cerah pria wanita, dewasa maupun anak-anak berkumpul di dermaga penyebrangan ini.


Termasuk tentunya saya, sambil mengetik dan ngopi untuk menemani sore yang dikejar dateline. 

Tentu mereka yang datang ke sini tidak akan menyia-nyiakan kesempatan melihat cahaya jingga anugerah sang pencipta ini. Mereka, termasuk saya pun mengabadikannya dalam bingkai kamera ponsel maupun kamera digital pinjaman (ini khusus buat saya, karena saya belum punya kamera keren).



Dengan keterbatasan kemampuan saya, pun ikutan memotret pergantian warna langit. Hasilnya pas-pasan, tentu saja, tetapi saya senang. Itu saja. 

Langit sore ini tidak bisa kita nikmati dalam waktu yang lama. Langit penuh dengan cahaya jingga ini tidak bisa kita nikmati berjam-jam. Hanya hitungan menit saja, cahaya indah dari matahari yang menuju ke barat ini bisa abadikan. 

Dermaga penyebrangan Sleko ini biasa digunakan untuk aktifitas penyebrangan dari Cilacap menuju ke Kampung Laut, maupun ke Kelurahan Kutawaru. Kalau sore sudah tidak ada aktivitas seperti saat pagi sampai siang. Tetapi kita masih bisa melihat perahu-perahu nelayan yang pulang menuju ke peraduan. 

Ada beberapa tempat lainnya yang juga asik untuk mengabadikan sunset. Ada beberapa tempat yang saya abadikan, diantaranya Pantai Teluk Penyu, juga di dermaga Batre. Kalau kamu punya lokasi lain  buat menikmati sore, bisa share-share kok. siapa tahu saya juga bakal datang buat foto. 

Sunset di Dermaga Batre (sebelum di tutup)

Sunset di Ujung Teluk Penyu