Senin, 19 Oktober 2015

Mau Air Hangat atau Dingin?..tinggal pilih deh

Curug Genting di Wisata Alam Giri Tirta (satu dari dua Curug yang ada)




Berwisata ke air terjun atau curug memiliki sensasi tersendiri bagi kita. Bukan hanya karena ingin pamer foto saja di media sosial, tetapi perjuangan kita kesana sering kali membutuhkan tenaga yang luar biasa.

Tapi tidak semua air terjun seperti itu loh, ada juga yang jalannya cuman sebentar, tapi bisa menikmati pemandangan yang luar biasa. Tak usah disebutkan curug mana, heee...hampir sama dengan curug yang berada di wisata alam di Giri Tirta, Pejawaran Banjarnegara ini.Saya harus berkendara dari Cilacap-Dieng-Banjarnegara. jauh kan.

Wisata alam Giri Tirta ini, kita bisa menikmati tidak hanya satu objek saja loh, tetapi tiga..bayangkan tiga. Kalau kata pepatah, Satu dayung tiga pulau terlampauai...ukhuuy...Ke sini, kita bisa menemui dua curug sekaligus, Curug Genting, Curug Mrawu serta satu sumber air panas Giri Tirta.

Jadi kalai mau main ke sini, kita bisa memilih mau yang panas-panas atau mau dingin-dingin, atau keduanya. Bisaaaa...

Perjalanan kemarin saya lakukan setelah bermain-main di Dieng bersama dengan lima teman seperjalanan. Dari Candi Arjuna Dieng, kita berjalan (kemarin pakai motor) menuju ke arah Desa Batur Kecamatan Batur, ikutin aja jalur itu. kemarin soalnya lagi mbonceng, jadi ngga inget banget. Tapi saya ingat jalannya yang akan menuju ke lokasi tanah longsor di banjarnegara beberapa saat lalu itu.

Kalau mau lebih jelas, nanya saja ke warga sekitar. Udah pada tahu kok. heee...Nanti di perjalanan, kita menemui pertigaan dengan gapura dari besi, ucapan selamat datang di Giri Tirta. Sayang kemarin ngga ke foto, lagi mbonceng sambil ngetik berita. heee

Ikutin saja jalan itu, jalannya ngga bagus-bagus banget, tapi juga ngga rusak-rusak amat. Lumayan lah, masih bisa dilalui. Ada beberapa belokan yang mesti kita tempuh, belok kanan dan belok kiri. Beberapa kali juga kita harus tanya-tanya ke warga, karena tidak ada petunjuk jalan menuju ke arah lokasi wisata alam ini.

Tenang saja, semua orang tahu kok, jadi nanya saja kalu ngga mau nyasar. Kita sempet salah belok, lewat jalan yang aduhai. sampai sepeda motor hampir ngga kuat. Setelah melihat sekitar dan nanya lagi, memang salah jalan, bukan jalan keatas yang dipilih, tetapi lewat jalan setapak dengan dua jalur yang harus dipilih.

Sampai di lokasi parkiran, kita bisa melihat disebrang ada bukit yang sudah ditanami dengan tanaman sayuran, dengan di bawahnya ada aliran sungai yang dari kejauhan pun sudah terlihat bebatuan dengan warna kuning. Akibat dari kadar belerang yang mengalir disana. Tapi bukan bukit itu, tempat curugnya. Kita hanya berjalan beberapa menit saja kok.

Pemandangan dari atas bukit
Dari parkiran itu, kita akan turun sedikit, melewati jembatan bambu kecil diatas irigasi pertanian. Ikuti saja saluran irigasi itu, sesekali celukan kaki kita ke air di saluran irigasi itu, hangat. Hati-hati jalannya, karena di sebelah kanan kita adalah tebing yang kadang curam dan kadang ada tanaman-tanaman pertanian yang ditanam warga.
 
Dari parkiran sepeda motor, turun dikit kok
Jalan setapak menuju Curug Genting, saluran irigasi di sebelah kiri, ladang milik warga di sebelah kanan
Tidak sampai 1 km, kita akan mendapati, guguran batu karena ada penambangan batu disana. Batunya sudah terbentuk tipis-tipis kaya lapis. Hati-hati jalannya, karena bisa saja longsor. Tapi kemarin kita lihat ada pemuda yang menggunakan sepeda motor melewati pematang tersebut. Uwow...padahal, disebelah kanan merupakan tebing yang lumayan curam loh.

Penambangan batu

Ini mas-mas yang lewat di jalan setapak menuju ke Curug

Musimnya memang lagi kering, jadi gemercik airnya Curug Genting, curug yang pertama kita akan temui pertama kali tidak terdengar dari kejauhan. Debitnya yang memang sadang kecil, posisinya juga memang menjorok ke dalam.

Dari atas jembatan besi menuju ke sana, kita terlihat sudah curug genting yang berada di tengah-tengah tebing bebatuan. Jembatannya lupa difoto, karena masih buru-buru mau ngetik hee (alasan ya..).

Potret Curug Genting dari atas jembatan

Sampai disana sudah sepi, tidak ada wisatawan atau penjual makanan yang masih berada di sana. Di lokasi sini juga sepertinya sudah mulai ditata, terlihat dengan sudah adanya gazebo untuk beristirahat, tempat duduk dari bambu untuk menimkati indahnya curug, dan juga tidak jauh dari sana ada WC.

Awalnya, saya kira air curug genting ini memang mengeluarkan air panas, karena dari atas jembatan saya melihat bebatuan berwarna kuning, efek belerang. Tetapi saya salah sangka. Air curugnya tetap dingin, sedangkan aliran air panasnya ini berasal dari sumber air panas Giri Tirta yang lewat melalui saluran irigasi dan menyatu di dekat aliran air curug. 

Aliran air hangat yang berasal dari Giri Tirta, berbaur menjadi satu di aliran Curug Ginting
So...kita tinggal pilih, mau menikmati air dingin atau air hangat. Bisa dua-duanya kaan. Kalau capek berjalan, berendam dulu di air hangatnya. Tidak terlalu panas, mungkin karena memang agak jauh dari sumber air panasnya. Awalnya mengira airnya memang panas sekali, karena uap airnya sangat tebal, ternyata hangaat. Rencana awal sih mau mandi-mandi, tapi karena sudah sore, jadi berendam kaki saja dan cuci muka.
  
Curug Ginting dengan ketinggian sekitar 70 meter, debit airnya lagi kecil
Menikmati sensasi air hangat dan dingin

Pertemuan air panas dan dingin
Waktu yang mepet sudah menunjukan pukul 17.00 lebih, membuat saya memilih berendam dan menikmati sensai air hangat di Curug Genting ini. Sedangkan teman-teman saya yang berempat menuju ke Sumber Air panas Giri Tirta dengan berjalan kaki. Saya hanya menitipkan kamera saya kepada teman saya itu, untuk mengabadikan air panas Giri Tirta.

ALiran Air Panas Giri tirta
Sayang memang ke lokasi ini tidak semua lokasi kita jamah. Namun, bagaimana lagi, waktu sudah Magrib warga sekitar yang kita temui pun mengingatkan agar jangan malam-malam pulangnya. Selain itu kita masih harus menempuh perjalanan lagi, sampai Cilacap. So..akhirnya pulang, walau dengan berat hati, karena belum melihat secara langsung Sumber Sir Panas Giri Tirta, dan Curug Mrawu. Kapan-kapan pasti ke sana lagi, dan luangkan waktu sebaik mungkin.

Sampai di Parkiran, hari sudah gelap. tapi masih ada petugas yang menunggu kami. Walau tidak ada pos tiketing disana, hanya ada gubug bambu, petugas yang sepertinya pemuda asli desa tersebut menarik uang parkir masing-masing sepeda motor Rp 2.000 dan uang masuk Rp 5.000. Total semuanya Rp 36 ribu, di tawar pun tidak boleh. haaaa...

Kamis, 15 Oktober 2015

Menikmati Padang Savana Gunung Pangonan

Candi Arjuna dari Bukit Gunung Pangonan


Menjelajah Dataran tinggi Dieng memang tidak ada puasnya. Selalu saja memberikan sesuatu yang baru dan menarik jika ke sana. Bukan hanya Candi Arjuna, Kawah Sikidang, Gunung Prau saja, atau mencari Golden Sunrise di Sikunir, tapi ada tempat yang tidak kalah asiknya. Menjelajah padang Savana di Gunung Pangonan atau Lembah Sumerep

Mungkin sudah banyak yang tahu, tapi bagi saya itu suatu penjelajahan baru. Apalagi bersama dengan teman yang baru ditemui di sana. Mereka aman kok, baik-baik dan tidak sombong.

Gunung Pangonan, tingginya sekitar 2.300 mdpl, hampir sama seperti Sikunir lagi. Kalau ke sini bisa beberapa jam saja naik turun, atau kalau makin enak memang camping di sana. Tapi kemarin naik turun sampai menikmati indahnya padang savana disana sekitar 4 jam. Belum cukup sih.

Banyak jalan menuju ke Gunung Pangonan ini. Diantaranya lewat Tlaga Merdada Desa Karangtengah, bisa lewat Desa Buntu, lewat Kawah Sikidang, atau lewat Musium Kailasa Dieng. Kalau saya bersama dengan empat teman baru saya ini lewat belakang Musium Kaliasa dari Candi Arjuna.



Musim Kaliasa Dieng
Dari Musium Kaliasa, kita menaiki tangga sebentar sampai nanti masuk ke kebun kentang milik penduduk. Hati-hati masih ada tanaman warga loh, kita lewat pinggir-pinggirnya aja sampai nanti sampai di jalan yang lumayan besar dan berdebu (maklum, lagi musim kemarau). Dari situ, kita bisa lihat di sebrang jalan, ada jalan setapak yang sduah di semen naik ke atas bukit. Untuk ke sana, kita akan melewati pipa besar, tapi santai kita ngga usah naik-naik ke pipa, karena hanya melewati di bawahnya.


Awal naik sudah jalan setapak
Jalan setapak yang di semen ini sudah hampir sampai atas loh. Lumayan buat yang ngga suka dengan tanah. Tapi buatku, ini lebih berat dan sulit, karena kalau ngga hati-hati bisa terpeleset. soalnya sepatu ku, kaya ngga cocog di jalanan yang seperti ini, heee... Apalagi kalau turun harus -hati-hati ya.. lari saja broo...(tidak saya sarankan sih, kasihan kakinya nanti..heee)


Nengok ke belakang sebentar deh, kalau lagi cerah bisa dapat pemandangan Gunung Prau full
Pertama jalan aja sudah langsung naik, namanya juga naik gunung, heee..tapi noleh sebentar deh ke belakang. Kalau lagi cerah, bakal melihat pemandangan yang sangat menajubkan. Ya, terlihat Gunung Prahu yang sudah melegeda bagi para pendaki gunung. Ini bisa jadi penyemangat, dan obat capek, sebelum melanjutkan perjalanan menuju ke pasang Savana.

Petunjuk arah
Di jalan yang sudah di semen ini, sudah ada petunjuk arahnya loh. Savana adan ke Sunrise Pangonan. Tapi karena kalau melihat Sunrise harus pagi-pagi, jadi saya lurus saja menuju Savana. Mungkin kapan-kapan bisa camping dan naik ke posisi yang bisa melihat sunrise. oke, jadwalkan!!

Di jalan, banyak anak muda mudi yang baru turun. Pakainya sandal atau sepatu biasa, jadi sepertinya medannya memang ngga terlalu ekstrim.So nikmati saja perjalanannya.

Jalan bersemen ini memang belum sampai ke Savananya. Tapi lumanyan panjang yang sudah dibuat jalan setapak. Bahkan, di jalan ada beberapa tumpukan semen yang pastinya bakal digunakan untuk membuat jalan disana.Tapi jangan terus ngikutin jalan setapak ya, ada yang belok ke ke kanan dan menuju ke atas. saya belum tau ke mana, karena ngga ada arahnya, mungkin ke puncak Sunrisenya kali. kapan-kapan cek coba. Kalau mau lihat ke padang Savananya lurus aja ngikutin jalan setapak dari tanah.

semen-semen untuk membuat jalan setapak
Sepanjang jalan menuju ke Padang Savana Gunung Pangonan, tanamannya masih rimbun dengan berbagai jenis tanaman. Malah ada spot yang bisa lihat kawah Sikidang.


Kawah Sikidang

Hanya saja karena lagi musim kering, jadi debunya lumayan. Jadi, kalau jalan rombongan harus hati-hati ya, kasihan yang belakang. Kena debunya. Disarankan pakai masker atau penutup hidung.

Perjalanan yang lumayan nanjak dan berdebu sekitar 35 menit, ini akan terbayarkan dengan melihat keindahan padang savana dari kejauhan. Luasnya luar biasa, mungkin bisa buat bikin 20 lapangan sepakbola, lebih mungkin.
 
Padang Savana Gunung Pangonan dari kejauhan
Tak sabar rasanya ingin langsung turun dan berguling-guling menikmati padang savana yang luar biasa indahnya itu.Tapi harus turun melewati turunan yang lumayan tanaj, jadi hati-hati sampai bawah. Melewati pohon cemara yang hijau dan rindang, sampailah ke padang savananya yang sangat luas. Nikmati padang savana mu...uwoow

Pintu menuju ke Padang Savana
Anak-anak muda yang menikmati padang savana

adem

Bersama teman baru

Terlihat di belakang objek merah ada pepohonan yang ada di tengah padang savana

Maap, modelnya hanya ini saja

Ayo ke sini

Asiknya main ke padang savana ini, apalagi ramai-ramai bareng temen-teman. akan lebih seru. buat foto-foto juga asik. Apalagi bawa makanan dan dimakan bareng-bareng ke sini, lebih menyenangkan.

#Yuk Maiiiiiinn....



Rabu, 16 September 2015

Watu Meja..Setinggi Meja...Tetep Bikin Ngos-Ngosan



Wisata Kekinian, Watu Meja Desa Tumiyang Kecamatan Kebasen, ketinggian aslinya ngga tahu pasti. Ngaga tingi-tinggi amat, tapi tetap bikin Ngos-ngosan. Pelan-pelan saja naiknya, atur nafas, dan akan menemukan tempat yang indah. Uwiiiw...

"Ibarate arep munggah gunung, aja ndeleng gununge terus (nduwur),mengko ketone adoh pisan,Tapi Nek ndelenge sikile sing go napak (ngisor),tuli ora kerasa wis tekan nduwur gununge,"kata Mardjoko, Mantan Bupati Banyumas.
Papan nama sebelum menuju ke Watu Meja
 Watu Meja, tempat yang lagi kekinian banget loh. Bukan hanya dikalangan anak muda, yang suka foto selfie, atau yang suka petualang. Tetapi juga orang tua dan keluarga  yang ingin berekreasi ke tempat berpemandangan indah.

Tuntun anak kecil ketika naik dan juga turun Bukit Batu Badar

Watu Meja atau masyarakat sekitar menyebutnya sebagai Bukit Badar ini berada di Desa Tumiyang Kecamatan Kebasen. Entah siapa yang ‘memopulerkan’ lokasi wisata yang berada di perbukitan daerah Kebasen ini.  Saya ngga akan membahasnya, silahkan ngacung...bebas. 

Lokasinya mudah dijangkau. Ngga usah pusing nanya-nanya. Kalau dari arah Purwokerto menuju ke Pasar Patikaraja, dai sana ambil jalan ke kiri yang menuju ke Kebasen. Setelah melewati jembatan serayu dan ketemu tugu terus ada ke arah Kebasen, ngikutin terus jalurnya sampe nemu ada papan petunjuk Watu Meja pake baliho. (ngga ada fotonya, lupa njepret)

Warga sekitar sepertinya cekatan melihat potensi yang ada. Terbukti papan petunjuk sudah dengan baliho. Tidak hanya satu pintu masuk ke Watu Meja ini, tapi saat pulang saya melihat tiga pintu lainnya di sepanjang Jalan Raya Kebasen. Lewat mana saja terserah, jalurnya tetap nanjak dan ujungnya satu, Watu Meja.


Nomor Parkir yang ngga boleh ilang

Tapi ada satu jalan lewat Kebasen yang bisa dilalui menggunakan sepeda motor. Saya sih belum tahu tepatnya, kara petugas dari KHP Banyumas Timur yang saya temui di sana, Pak Jarwo mengatakan kalau mau lewat jalur tersebut, kalau dari arah Tumiyang menuju ke Kecamatan Kebasen, sampai ke rel kereta api ada jalan ke kiri, nah tuh lewat situ. Tapi belok laginya kemana belum suvei, nanya saja ke warga, atau bisa nanya ke Pos KPH Banyumas Timur. 

Parkiran yang memang ditata rapih

 Kalau dari arah Cilacap, pertigaan Sampang lurus dikit menuju ke jalan alternatif menuju ke Patikraja. Kalau mau lewat jalur Kebasen, maka setelah rek kereta belok kanan. Kalau mau lewat Tumiyang masih lurus terus, sampai ada rame-rame di pinggir jalan (Sudah banyak warga yang mengarahkan jalan, red) dan petunjuk arah. 


Warga yang sudah sadar wisata ini, mulai mengelola dengan baik. Seperti parkir, ditata rapi dan diberi nomor, antisipasi tertukar atau sengaja menukar.  Tarif masuk juga ngga ada, cuman seikhlasnya. “Namanya anak muda, gengsi dong kalau ngasih seribu, dua ribu,”. Eh, Nama kita pun dicatet disana, biar tercatat jadi anak kekinian gitu.


Start menuju Watu Meja..Bismillah...

Jalur ke lokasi pun sudah ada papan petunjuknya. Kalau kita masuk lewat pintu pertama (kalau dari arah Patikraja, red) baru mau nanjak akan ada persimpangan jalan. Satu jalan ekstrim dengan nanjak total, tapi cepet naik sampe puncak.  Kalau ke arah kanan jalur agak landai (tetep bikin ngos-ngosan, bahkan ada juga yang sampai pingsan karena kecapekan, red) tapi harus memutar jadi jauh. 

Anak kecil duduk di persinpangan jalan yang terjal dan landai..pilihlah, karena tujuannya sama Watu Meja


Ditempat-tempat yang ekstrim jalannya juga sudah dikasih bambu, antisipasi kalau hujan ngga rontok, alias jadi licin. Bambu juga disiapkan oleh warga di tempat-tempat tertentu sebagai pegangan.


Pegangan bambu, membantu saat naik dan turun

Di sepanjang jalan menuju ke lokasi, selain pemandangannya variasi, awalnya ada tanaman warga, bambu dan juga pinus, juga sudah banyak warung makanan. Warung ini juga akan semakin banyak saat diatas, atau sekitar Watu Meja ini. Kalau ngga mau bawa bekal biar naiknya enteng, ya beli saja. Harganya standar, mahalan di Mall-Mall heee.


Haus atau lapar? banyak warung kok

Memang ada batu segede gaban yang bagian atasnya datar seperti meja, dengan satu kaki penopang. Di sampingnya ada batu-batu kecil yang menurut warga kalau itu dijadikan tempat duduk. Disekitar batu di beri pembatas menggunakan bambu. Tulisan larangan menaiki batu, pun sering diabaikan oleh pegunjung, terutama anak muda. Yang penting bisa selfie...waduh..jatuh baru tahu rasa dah..(semoga jangan yaa)
“Kalau lagi ‘dapet’ jangan naik batu itu ya,” kata ibu-ibu di Desa Tumiyang.


Areal berbahaya...mending ngga usah naik ke atas batu

Saat ditanya kenapa?,dia tidak bisa menjawabnya. “Sudah dari dulu gitu,” katanya. Okwelah...ingat tuh

Pemandangannya indah, bisa melihat sungai serayu dengan liukkannya yang seperti ular, jembatan kereta api diatas sungai serayu dengan kereta api yang mondar mandir lewat. 

Sungai Serayu





Jembatan kereta api
Pohon-pohon pinus yang tumbuh tinggi pun menjadi tempat foto yang indah. Semilir angin, membuat enak untuk  menikmati tidur. Bahkan kalau sukses eh beruntung, sore hari bisa menikmati sunset, kalau saya kemarin ke sana lagi kabut. Pas udah turun ke bawah dan jalan pulang, melihat ke atas langit kok malah terang..huft belum beruntung deh.

Indah pada waktunya

Eh walau di bukit, ada hiburannya juga loh. Sudah ada pengamen kentongan yang memainkan musik. Ngga keliling, cuman berdiri saja di shelter, dengan kotak di depan mereka. Kalau-kalau ada yang punya koin atau uang lebih mau melemparkan uangnya. 

Penghibur

Terlalu banyak orang, maklum, namanya juga tempat yang lagi kekinian. Tentu akan berdampak terhadap peredaran sampah disana, semakin kotor memang. 

Penuh

Walau sudah ada dua tong sampah yang sengaja disediakan dari Perhutani di sekitar igir Watu Meja ini. Ngga akan komentar, harusnya sadar sendiri saja, dan berusaha buat ngga ngelakui hal itu dan bahkan kalau bisa membersihkan semampunya.

Buang lah sampah pada tempatnya


Keberadaan Watu Meja ini, ada di hutan lindung. Itu hasil nanya-nanya saya dengan Pak Jarwo, petugas KPH Banyumas Timur pas mau pulang. Karena masih berada 2 km dari sungai Serayu, dan juga Bendung Gerak Serayu.

“Seharusnya ini tidak boleh dibuka untuk wisata atau rekeasi,” katanya.


Hutan Pinus (ngga tahu pasangan ini apa, tapi posisinya pas banget saat motret)

Tapi pihaknya tidak bisa membendung banyaknya masyarakat yang penasaran dengan keberadaa Watu Meja dan keindahan pemandangannya. Dia pun hanya meminta kepada masyarakat sekitar, terutama para pedagang untuk mau membantu menjaga kelestariannya.

Habis makan jangan lupa buang di tong sampah yang sudah disediakan

“Sudah berkoordinasi dengan warga, ikut menjaga kebersihannya. Dan juga sudah meminta kepada pengunjung untuk menjaga kebersihan, buang sampah jangan sembarangan lewat spanduk dan baliho, kita sudah sediakan dua tong sampah. Tapi nyatanya mau tidak mau tetap kotor saja,” katanya.
Menurutnya, saat ini yang terpenting adalah pohon yang ada masih ada sepert semula, tidak dicorat coret, atau di’kerok’ getahnya. Selain itu juga batok-batok yang ada disana masih tetap ada, tidak dipecah atau diambil pengunjung. 

“Yang penting sih kalau batok-batoknya masih ada, dan tidak ada yang berubah disini,” ujarnya.


Hutan Pinus yang merupakan hutan lindun, mengingatkan Film Vampir auuuu

Sampai saat ini, dari Perhutani tidak meminta ‘jatah’ retribusi sukarela yang diberikan kepada warga dari pegunjung. Hany akan meminta kepada warga untuk menyisihkan sebagian ‘penghasilan’ nya itu untuk merawat Hutan Lindung, seperti untuk kerjabakti bareng membersihkan sampah, atau memperbanyak tempat sampah. Selain itu juga untuk membuat gazeb-gazebo untuk berteduh atau sekedar tempat duduk.

"Ibarate arep munggah gunung,aja ndeleng gununge terus (nduwur), mengko ketone adoh pisan,Tapi Nek ndelenge sikile sing go napak (ngisor),tuli ora kerasa wis tekan nduwur gununge,"kata Mardjoko, mantan Bupati Banyumas

Okweh....bagi semua yang mau dateng ke sini, ngga cuman kekinian bisa foto buat depe di sosmed, tetapi juga harus jaga kebersihan. Jaga lingkungan hutan agar tetap bersih seperti sebelumnya.

“Peduli lingkungan (Ngga buang sampah, ngga corat-coret, ngga merusak fasilitas umum, ngga melanggar peraturan yang ada,) bikin kau awet muda loh,” aku.


Kamis, 27 Agustus 2015

Gili Labak, Baru Tahu?? Sama...


PPG eksis sampai Gili Labak
Gili Labak, baru aku dengar  namanya di akhir Bulan Juni kemarin. hee...bukannya ngga pernah mendapat pelajaran Geografi, tapi inget di Indonesia ada sekitar 17.500 pulau, mana bisa hapal semuanya. Paling yang ukurannya jumbo-jumbo saja.

Lagian Gili Labak yang berada di Madura, Kabupaten Sumenep ini belum begitu terkenal (terkenal beberapa tahun ini) seperti Gili-gili lainnya yang ada di Lombok yang sudah mendunia. Karena ternyata ada pulau kecil yang hanya sekitar 5 hektar yang jauhnya harus ditempuh dua jam perjalanan dari ujung Sumenep.

Gili Labak, atau ada warga yang menyebut Gili Lawak ini masuk ke Dusun Lembana  Desa Kombang, RT 5 RW 3 KEcamatan Talango, Kabupaten Sumenep, Madura. Ada sebanyak 33 kepala keluarga yang berada di pulau kecil ini.



Saya bersama dengan teman-teman saya kemarin sebanyak 14 orang bertemu di lapangan parkir Graha Pena Surabaya. Dari sana menggunakan bus ELF menuju ke Pelabuhan Kalianget Kabupaten Sumenep, dengan ditempuh selama 4 jam perjalanan.
Gambar ini ngambil dari blog punya isyadhebat.blogspot.com

Setelah itu, mobil membawa kita menyebrang dari Kali Anget ke dermaga Pulau Talango, yang hanya sekitar 3 menit saja. Sebenarnya dari Kali Anget langsung ke Gili Labak bisa langsung menyebrang menggunakan perahu. tapi perjalanan hrus ditempuh dengan waktu selama dua jam (kalau yang punya mabok laut, mending jangan deh).
Kendaraan yang ikut menyebrang

Ini suasana pasar di dermaga Talango

Setelah mendarat di pelabuhan Talango, rombongan melanjutkan perjalanan ke Desa Kombang. Disana (saya dan rombongan yang menggunakan travel agen) di rumah warga yang dijadikan basecamp,semuanya makan pagi dengan menu seadanya. Sayur buncis, sepotong telur dadar yang asin, dan saru potong ikan tongkol kecil. nasinya pun sedikit. wkwkwk...

Masih ceria nih sebelum perjalanan ke Gili Labak
Usai makan, sekitar pukul 08.30 WIB, kita diminta untuk bersiap untuk menyebrang. Sampai di dermaga di desa tersebut, kita agak terkejut, karena kapal yang akan membawa kita tidak berada di dermaga, karena kandas. Jadi kita harus jalan kaki melewati pantai dan baru naik di perahu.


Harus basah-basahan dulu sebelum naik perahu nih


Saling bantu transfer tas, dan saling pegangan melewati bibir pantai yang dibawahnya karang licin
Tidak ada peringatan dari agen yang membawa kita kalau angin besar dan gelombang besar. Informasi ini didapat dari warga dan tukang perahu yang akan membawa kita. hm...bismillah aja saat menyebrang nanti. Benar saja, gelombang dengan ketinggian sekitar 2-3 meter lebih ini menerjang kapal yang ditumpangi rombongan. Tidak seperti rombongan kapal lainnya, di kapal kita tidak ada satupun yang mendapatkan pelampung atau lifefest. haaa.....tambah paniklah kita.  "Berdoa saja," kata teman mengingatkan.

Wajah ceria lagi setelah perjalanan yang menajubkan
Perjalanan yang seharusnya satu jam ini, ditempuh 1 jam15 menit. Karena mungkin tukang perahunya berjalan dengan hati-hati agar tidak terjadi apa-apa.
  
Terlihat sebagian Gili Labak


Sampai di Gili Labak, hati rasanya tidak sabar langsung ingin merenang dan menikmati indahnya bawah laut pulau ini. Namun, sayang, dengan tidak jelasnya jadwal dari travelagen kita, selama hampir 7 jam lebih kita 'dianggurin'.

Foto di bawah papan Gili Labak



Untungnya kita punya inisiatif untuk berenang-berenang dan berkeliling ke seluruh pulau. Foto-foto berbagai pose...keliling pantaii...







Menikmati Gili Labak (Pas topi masih bagus)



 .....Pose menikmati pantai....dan bahkan sampai sempat tidur siang, karena ada rumah-rumah panggung yang dibuat di depan rumah warga.









Kita yang ngga mau dianggurin ini minta ada kejelasan aktifitas, akhirnya pada pukul 16.00 WIB, kita diperbolehkan untuk snorkling di sekitar pantai. Sayangnya, saat itu sedang surut, ketinggian air lautpun menyurut, membuat kita yang berenang sangat dekat dengan terumbu karang. Tidak sedikit yang belum terbiasa snorkling harus menginjak-injak terumbu karang yang ada dibawah.


Mulai snorkling niiih


Airnya keruh, karena terlalu rendah membuat pasir naik ke atas


sampah platik bakal lama ngga bakal bisa terurai

ambil dan buang ke tempat sampah

Blossom pun ikut menyelam


Terlihat juga banyak terumbu karang yang sudah rusak akibat injakan-injakan kaki (mungkin loh) yang berusaha ingin berdiri. Sampah plastik juga terlihat di beberapa bagian, dan airnya pun tidak jernih.
Tapi sore itu, semua terasa terobati dengan melihat sunset yang indah di Gili Labak.

Usai snorkling menikmati sunset (sengaja di blur)

Tapi ternyata setelah dihitung-hitung ngga semuanga ikut snorkling. Ada teman lainnya yang mabok laut dan masih merasa mual. Jadi dia harus istirahat di penginapan deh.

Bukan All Team

Harusnya hari berikutnya masih menikmati snorkling sekali lagi. Awalnya sih antusias banget mau ngulangi, siapa tahu terumbu karangnya lagi bagus, dan sedang pasang, jadi tidak bakal sependek hari sebelumnya. Tetapi mengingat, gelombang tinggi yang masih bakal terjadi, jadi sesuai kesepakatan rombongan kita ingin pulang lebih awal. Harusnya dijadwalkan pukul 13.00 WIB baru mulai merapat. tetapi kita minta lebih cepat, pukul 08.30 WIB.

Kita nikmatin sunrise dulu nih paginya
 Pagi harinya tentu saja kita memburu sunset yang juga menjadi daya tarik Pulau ini. Karena di pulau kecil ini bisa menikmati keduanya. Uwow!!!

Ngeksis dikit dah
Sempetin juga keliling ke seluruh pulau. Ternyata banyak juga wisatawan terutama dari Indonesia saja yang datang ke pulau ini. Bahkan, mereka ada yang camping loh (kapan-kapan bisa dateng lagi sambil camping ahh..)

Gimana rasanya camping di pulau terpencil??Tanya mas ini


 Dan sebelum pulang, dua rombongan, satu dari rombongan saya dan satu lainnya dari Surabaya juga berfoto ria dengan mengkampanyekan "Save Our Littoral Life".


Ada baiknya memang menggunakan travel agen, tapi harus benar-benar nyari yang OK dan pelayanannya memuaskan. Ngga kaya yang kemarin ini, lelet, dianggurin, dicuekin, ngga jelas jadwalnya, dan lagi ngga ada penjelasan yang sejelas-jelasnya jika terlambat dan lain sebagainya.Saya ngga mau sebut namanya apa, pokoknya ngga recomended deh.

Pingin balik lagi, dan berwisata dengan santai..camping, dan carilah cuaca-cuaca yang sedang bersahabat. Hmm..mau tau kapan? tanya BLKG aja. heeee....Salam Bermain