Kamis, 27 Agustus 2015

Cobalah Tanpa Gadget di Gili Labak

Kapal warga disandarkan di pinggir pantai Gili Labak
Berwisata ke pulau, bukan kali ini saya lakukan. Sudah pernah sebelumnya ke Kepulauan Seribu. Perbedaannya, Pulau seribu sudah terkenal dengan keindahannya, dan juga rumah-rumah penduduk sudah banyak yang disulap sebagai penginapan atau home stay selama di pulau. Tapi pernah juga sih saya camping di Pulau Semak Daun.

Sudah meleknya wisata di Pulau Seribu ini, membuat kita disana dimanjakan dengan adanya aliran listrik yang selalu sedia setiap saat. Berbeda saat ke Gili Labak, Kecamatan Talango, Kabupaten Sumenep Madura. Saya kira, suasana di sana pun sama dengan yang berada di Kepulauan Seribu. Ternyata berbeda.

Listrik disana hanya bisa dinikmati pada malam hari, itu juga hanya sampai pukul 00.00 WIB. Masyarakat memanfaatkan panel surya untuk menampung energi panas matahari di siang hari. dan disalurkan menjadi aliran listrik di malam hari. "Wah saya tidak bisa ngecas nih kalau begitu," kata seorang teman.

Tapi setelah banyaknya wisatawan yang datang ke situ, operator wisata disana, menyediakan genset untuk cas hape (karena kebanyakan bawa hape semua). Tapi, karena banyaknya yang ngecas, dan sedikitnya colokan, serta terbatasnya volt dalam genset tersebut, sebentar-sebentar mati, dan sebentar-sebentar hidup.

"Hey...ayolah...kita katanya di pulau terpencil tapi kenapa masih pake gadget," kata ku.
"Buat foto-foto lah, biar langsung update status," kata temenku.
Okelah..

Walau teman-temanku semua pada ngecas (ada juga yang membawa power bank) tapi kucoba sendiri tidak menggunakan gadget selama dua hari (karena biasa juga pas digunung tanpa signal). Karena sudah biasa, makanya tidak terlalu merisaukan untuk update status di semua sosmed, baik di bbm, instagram, facebook, path, tweeter, dan lain-lainnya heee.

Tapi ternyata mengasyikan, ngga usah jadi autis, dan bisa menikmati sepenuhnya keindahan Gili Labak ini. Bisasnorkling dengan santai, keliling pulau, bermain air, bermain pasir, atau hanya duduk-duduk di pinggir pantai sambil melihat bintang di malam hari.


Letakkan gadget dan kita berbicara dari hati ke hati

Karena kita tidak usah meladeni chat balesan dari teman. Tidak usah panik karena tiba-tiba ada tugas pekerjaan yang mendadak, tidak usah sedih karena harus melihat pacar atau mantan sedang bersenang-senang di tempat lain. Tidak usah galau pas melihat teman lainnya postinganya lebih keren dari pose kita...haaa..semua santaai..(tapi memang yang dikhawatirkan ada kabar duka dari keluarga yang harus kita ketahui cepat jadi tidak bisa langsung mendengar, semoga sih tidak ya)

Itu tuh miss selfie haaa


Coba saja deh...pas kita liburan, apalagi saat camping atau di pantai tidak mengaktifkan gadget.

"Aku kan ngga punya kamera, jadi ini fungsinya jadi kamera juga. kamu kan udah punya kamera," kata teman lainnya.
"Okelah kalau begitu,saya juga ikutan foto selfie bareng ya..." kataku sambil ikutan selfie-selfie...heee...ternyata sekarang hidup kita tidak bisa lepas dari gadget ya.

Saya Bisa Bayangkan Bagaimana Pi saat dilaut Lepas

Harus berbasah-basah dulu sebelum naik ke kapal
Teringat akan film "Life of Pi" saat perjalanan menuju ke Gili Labak, dari Pulau Talango, Minggu (16/8) lalu.Bagaimana tidak, saat menyebrangi lautan selama satu jam lebih ini, kapal yang membawa rombongan kami selalu dihempas oleh gelombang tinggi.

Memang pada saat itu, gelombang sedang tinggi, karena angin timur. Satu jam perjalanan serasa seperti satu tahun.

Bagaimana Pi saat diterjang ombak besar, tapi kali ini tidak bersama harimau benggala dan juga hewan lainnya. Tetapi bersama dengan rombongan teman yang berjumlah 13 orang ditambah satu guide, eh bukan ding..cuman pendamping dan dua ABK.

Bedanya, perahu yang digunakan bukan scoci seperti yang digunakan oleh Pi, tetapi perahu berbentuk seperti kapal Pinisi, khas perahu Madura. Berbentuk lancip di setiap ujung dan agak melengkung.

“Saat itu, pasti Pi sangat ketakutan ya,” kataku dalam hati.

Perbedaannya lagi, Pi pintar berenang, jadi masih bisa menyelamatkan diri ketika harimau harimau sedang menganggunya disaat gelombang sedang tinggi.Tapi, diperahu ini, tidak semuanya bisa berenang. Bahkan yang bisa berenangpun pasti tidak pernah berenang di lautan lepas dengan gelombang tinggi.

Masih terlihat gembira sebelum naik Kapal


Awalnya memang mengasyikan karena seperti menaiki kora-kora di pasar malam. Tapi lama-lama membuat mual. Tidak sedikit teman yang harus memuntahkan makanan terakhirnya ke laut.tidak tahan dengan guncangan gelombang yang menghempas.

Rasa suka cita terpancar disemua raut muka para rombongan. bagaimana tidak kapal kita yang ternyata berjalan sangat lamban ini akhirnya akan merapat ke pulau yang dituju. Pulau kecil bernama Gili Labak, atau orang sekitar menakannya Gili Lawak.

Muka-muka saat sudah melihat Gili Labak
Turun di Gili Labak ini memang sangat mengasyikan. Bagaimana tidak,pasir putih yang lebut sudah menghadang. Membuat kita tak betah menggunakan alas kaki, mending nyeker saja, lebih asik. tapi tetap hati-hati, beberapa tempat ada yang masih banyak karang-karang pecah.

Pulau yang bisa kita kelilingi dalam waktu kurang dari satu jam (kalau ditambah foto-foto, kalau lari paling 10 menit) ini memang sangat mengasyikan. Bagaimana tidak, walau ramai orang, tetapi melihat perjuangan perjalanan ke pulau ini sebanding.

Tapi harus diingat, kalau ke sini persiapan packing harus yang bener. Biar ngga ada baju yang basak karena harus kena air laut yang masuk saat di perahu. Untungnya, saya sudah terbiasa dengan menggunakan plastik untuk memacking pakaian di dalam tas. Jadi aman. Semua peralatan kamerajuga sudah aman. tinggal jemur bagian luarnya aja biar ngga bauu....



Jumat, 07 Agustus 2015

Guyub Rukun Mengenang Leluhur

Anak Cucu Kalikudi berjalan kaki dari kalikudi menuju ke makam leluhur mereka di Daun Lumbung

Berjalan kaki puluhan kilometer sudah pernah saya rasakan saat mengikuti Pendidikan Dasar (Diksar) saat masuk ke Unit Pandu Lingkungan Mahasiswa Pecinta Alam (UPL MPA) Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) tahun 2003 silam.
Perjalanan sekitar 60 km lebih ini ditempuh selama hampir 14 hari. Tentu saja setiap hari tidak berjalan, sudah dijadwalkan ada kegiatan setiap harinya. Tapi kali ini bukan membahas tentang Diksar saya, melainkan para Anak Cucu Kalikudi, penganut kepercayaan dari Kecamatan Adipala.
Siang itu, sekitar panas terik di tanggal 10 Bulan Syawal, puluhan orang berjalan dengan mengangkut pikulan di bahunya. Dengan berpakaian sederhana dan tidak lupa dibalut dengan kain atau sarung, mereka berjaln beriringan.
Sedikitnya sepanjang 45 kilometer tidak menyurutkan langkah para anak-putu Kalikudi yang akan nyawal atau pudunan atau turunanke tempat leluhurnya di Cilacap. Mereka akan bersilaturahmi dan juga menilik leluhur mereka yang ada di makam Daunlumbung Kelurahan Tegalreja Cilacap.
Dengan niat ingin nguri-nguri budaya, mereka berangkat dari Desa Kalikudi Kecamatan Adipala sejak pukul 08.00 WIB. Bersama-sama membawa bahan yang belum dimasak, berupa beras bumbu masakan, ayam yang masih hidup tempe, minyak dan laiinya. Bahan makanan itu diletakkan dalam keranjang yang dipikul oleh para  lelaki, anak-putu keturunan Kalikudi


Mbah Wongsa Dikarya, sesepuh Anak Putu Kalikudi atau yang disebut Paguyuban Resik Kubur Jero Tengah (PRKJ) ini mengaku kedatangan kereka dari Adipala ke Cilacap ini untuk Nyadran. Sudah rutin dilakukan sejak ratusan tahun lalu. Ini dilakukan untuk mengingatkan anak-cucu kepada leluhurnya, bahwa mereka ada didunia ini berkat adanya para leluhur.
“Kudu eling karo leluhur, karena kita hidup juga karena mereka. Ini juga sebagai tempat untuk silaturahmi,” kata keturunan Majapahit ini.
Jalan kaki dari desanya di Kalikudi sampai ke Cilacap, kata dia sudah diatur sejak dulu, dan tidak berubah sampai sekarang. Walaupun banyak perubahan jalan yang diaspal, namun tidak merubah rutenya.
“Sudah ada dari dulu, ya kaya gini. Kita hanya nuruti saja,” katanya.
Walaupun saat ini merupakan jaman modern, kata dia tidak ada anak-putu yang dipaksa untuk ikut melakukan tradisi ini. bahkan, dengan kesadaran diri, mereka mengikuti prosesi ini dengan baik. Pasalnya, sejak kecil mereka sudah ditanamkan untuk selalu senantiasa mengingat para leluhur mereka.
“Tidak ada paksa, bahkan mereka anak-anak muda ini sangat anusias, mereka yang membawa bekal makanan dan menggotongnya. Ini kaya jadi ngamalan, ngibadah mereka buat para leluhur,” kata.
Semua yang dilakukan dalam proses nyadran ini memiliki makna, seperti diantaranya memikul bahan makanan yang akan dimasak bersama-sama untuk selametan di jalur yang sudah ada sejak dahulu. Artinya, membawa barang harus hati-hati, dan sesuai dengan aturan, agar sampai ke tujuan dengan selamat.
Sementara jalan kaki, mengingatkan akan nenek moyangnya sejak dulu yang selalu berjalan kaki untuk bersilaturahmi ke tempat nenek moyang. Sehingga walaupun sudah ada mobil dan kendaraan, ini tidak digunakan. 
Selama menuju ke tempat para leluhurnya ini, mereka ada lima kali berhenti, biasanya istirahat dilakukan di Adipala, Karangkandri, Gumilir, dan Pasar Sangkalputung.
Para sesepuh beristirahat di Jl Suprapto atau sekitar Pasar Sangkalputung Cilacap
 
Tradisi ini, kata dia akan selalu dilaksanakan sampai anak cucu mereka kelak. Karena mereka akan selalu memberikan pesan kepada anak cucunya untuk mengingat kepada leluhurnya. 

Sesampainya di padepokan Daun Lumbung, Cilacap Selatan, ada berbagai kegiatan yang dilakukan. Mereka akan memasak bahan makanan yang sudah dibawanya untuk selamatan di malam harinya. Tapi sebelumnya mereka akan melakukan dzikir bersama. 

Pagi harinya, para laki-laki akan bersih-bersih makam leluhur mereka di makam Daun Lumbung. Mulai dari menyapu, mengecat dan lain sebagainya. Sedangkan untuk para wanita mempersiapkan makanan untuk dimakan bersama. 

Pawestri masuk ke makam leluhur mereka di Makam Daun Lumbung

Doa bagi para leluhur baru akan dimulai setelah para wanita atau pawestri masuk ke dalam areal panembahn leluhur mereka 'Mbah Purba'. dengan mengenakan pakaian khas mereka, dan tanpa alas kaki pawestri ini masuk ke pemakaman dipandu oleh sesepuh. Di dalam areal pemakaman ini, mereka kemudian berdoa kepada leluhur mereka yang sudah mendahului. Usai pawestri melakukan doa dilanjutkan dengan para laki-laki yang berdoa.


Seorang pawestri berdoa di depan makam leluhurnya, di Daun Lumbung


Kamis, 06 Agustus 2015

Setetes Air Hujan itu, Sangat Kami Harapkan

Seorang kakek berdoa dengan khusyuk usai Salat istisqo atau Salat minta hujan

Sudah lebih dari lima bulan hujan tidak turun di daerah Desa Kubangkangkung, Kecamatan Kawunganten. Ratusan hektar sawah dengan tanaman padi yang baru berusia satu bulan, tanahnya mengering dan retak-retak akibat tidak ada pasokan air yang mengalir. Kebun-kebun palawija kering tanahnya. Bahkan air bersih untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari saja sangat sulit bisa ditemui.

Jikapun ada, warga mau tidak mau harus mencari ke sumber-sumber air yang jauhnya sekitar 3 km lebih, atau berada di sekitar waduk hutan Kubangkangkung. Air bersih itu hanya digunakan untuk kebutuhan sehari-hari, masak, minum dan mandi.

"Mandipun sehari sekali, karena ngirit air," kara Rina (25) warga RT 3 RW 4 Dusun Sidasari Wetan, Desa Kubangkangkung.

Hujan yang tidak kunjung datang ini, membuat masyarakat sudah sangat berharap dengan turunnya hujan. Mungkin satu-saunya cara yang bisa dilakukan dengan menggelar Salat Istisqo atau salat minta hujan. Setelah cara lainny dengn mengandalkan air waduk pun tidak mencukupi.

Diatas tanah kering dan retak, warga Salat Istisqo

Ratusan warga desa pun akhirnya berembug dan segera melaksanakan Salat Istisqo. Laki-laki dan perempuan menggelar Salat Istisqo di sawah yang sudah mengering dan retak-retak milik warga. Uniknya, warga laki-laki mengenakan sarung atau selendang yang diikatkan di pundak sebelah kanan menyelempang ke badan. Artinya, agar tanah yang sebelumnya kering akan dibasahi oleh hujan. entah benar atau tidak, itu menurut warga.

Dengan beralaskan terpal dan juga tikar, Salat Istisqo yang dipimpin oleh imam KH Amin khusein ini dilaksanakan. Salat dua rokaat ini diikuti warga dengan khusuyuk walaupun saat itu sedang panas terik, walau waktu baru menunjukkan pukul 10.30 WIB.

Kyai Abu Dardo yang memberikan khutbah ini mengatakan selama beberapa bulan ini membuat sawah, palawija, dan sumur warga mengalami kekeringan. Usai memberikan khutbah, dengan membelakangi para jamaah, Abu memimpin do'a bersama agar permohonan warga dikabulkan.

Warga berdoa memohon hujan turun

"Kami memohon ampun kepada Allah, dan berdoa disini, meminta agar Allah memberikan hujan kepada kami agar tanaman bisa tumbuh dan berbuah kembali," kata Khatib yang menggunakan sorban putih ini.


Kyai Abu Dardo memberikan khutbahnya

Dengan menggunakan bahasa Jawa kromo inggil, sang Khotib meminta ampunan kepada Tuhan yang maha Esa. Mengjak warga untuk memohon untuk diberikan keberkahan, melalui tetesan hujan yang turun didaerahnya. Hujan yang tidak berlebih. Agar kehidupan tanaman, ternak dan juga warga akan semakin baik. Krena tanaman akn berbuah, sehingga warga bisa menikmatinya untuk kehidupan.

Warga berdoa dengan khusyuk memohon hujan turun

Kyai abu Dardo pun kemudian membalikkan badannya memunggungi jamaah untuk memimpin doa bersama. Dengan sungguh-sungguh, warga terlihat sangat berharap agar permintan merek segera ikabulkan. Hujan turun membasahi tanh persawahan mereka. Karena setetes air hujan ini sangat dibutuhkan oleh warga.

Panas terik tidak menyurutkan semangat ereka memohon diturunkannya Hujan di desa mereka, Kubangkangkung




Rabu, 22 Juli 2015

Lebaran di Lapas Pasir Putih Nusakambangan

Mulai Salat Ied, Silaturahmi sampai Makan Opor Bersama


Salat Idulfitri di lapangan sekitar rumah sudah biasa, di alun-alun Cilacap juga sudah pernah. tapi kalau di dalam lembaga permasyarakatan (lapas)? belum. Ingin sekali bisa merasakan Salat Ied di dalam Lapas, tapi bukan sebagai warga binaan ya..hee..jangan sampai deh. ngeliput aja daah

Eh mungkin sudah takdir, nasib atau jodohnya ya...tiba-tiba ada pesan singkat masuk dari pak Hasan makarim yang mengajak untuk melakukan peliputan Salat Ied di dalam lapas Pasir Putih Nusakambangan. uwow...sapa yang engga mau, diajak di Lapas Pasir Putih yang penjagaannya ketat.

Jumat (17/70 pagi sekitar pukul 05.30 WIb harus sudah berada di derma aWijayapura untuk menyebrang ke Dermaga Sodong Nusakambangan. Tapi nahas, telat bangun, itu pun karena dibangunkan ibuku. mandi secepat kilat, dan siap-siap tidak lupa bawa kerudung dan juga mukena untuk Salat.

Cur sampai di dermaga sekitar pukul 05.40 WIB, daan...belum pada berangkat, eh mau berangkat ding. Secepat kilat juga saya registrasi dan memberikan fotokopi KTP dan KTP asli ke petugas pos dermaga Wijayapura, sebagai data orang yang masuk ke dalam Nusakambangan.

Menggunakan perahu compreng, sekitar 7 menit sudah sampai ke dermaga Sodong Nusakambangan. Disana saya bersama tiga wartawan lainnya dan dua orang Ustaz, satu diantaranya Ustaz Hasan Makarim dijemput menggunakan ambulan.

Wew, ambulan..haaa..bukan karena sakit, tapi memang karena keterbatasan armada yang ada di Nusakambangan. Ngga apa-apa, asal selamat sampai tujuan. walau ngeri-ngeri sedap, masuk ke ambulan yang sudah pasti digunakan untuk membawa orang sakit, bahkan mayat. hiii

Lapas Pasir Putih ini sendiri, berada paling ujung dibandingkan lapas-lapas lainnya. Kita harus melewati Lapas terbuka, Lapas Batu, Lapas Narkoba, Lapas Besi, Lapas Kembang Kuning (maap kalo kebalik-balik), Lapas Permisan dan baru ke Lapas Pasir Putih.

Sampai di sana, para wartawan yang terdiri dari tiga laki-laki dan satu perempuan (tentunya saya hee) diminta ID Card dan juga fotokopi KTP yang sudah disiapkan. Kemudian barang bawaan kita di cek, ponsel harus di tinggal dan tidak boleh dibawa ke dalam. Akan tetapi, kamera masih diperbolehkan untuk dibawa masuk, karena untuk peliputan. Tidak hanya itu, seluruh badan juga diperiksa oleh petugas.

Itu baru pemeriksaan di lobi depan. memasuki ke dalam lapas, kita keluar dari bangunan depan dan masuk ke bangunan tengah yang di sekat dengan pintu gerbang. Kita melewati pintu kecil dari besi agar bisa masuk ke dalam. Seharusnya di sini juga dilakukan pemeriksaan kembali, namun karena sudah buru-buru, akhirnya hanya melewati metal detektor. Aman, kita boleh masuk ke area lapas yang ditutup dengan jeruji.

Di depan pintu besi tersebut ada petugas yang melakukan penjagaan. Pintu dibuka, dan memasuki jalan setapak di tengah taman yang ditengahnya terdapat gazebo. jalan setapak tersebut menuju ke depan Masjid Attaubah.

Suara takbir baru terdengar ketika memasuki lapangan tengah Lapas Pasir Putih. Suasana pun terasa sangat berbeda dengan lebaran-lebaan di luar sana.

Bertempat di lapangan tenis yang berada di sebelah kanan Masjid At Taubah Lapas Pasir Putih, Salat Idulfitri dilaksanakan. Warga binaan dari blok A, B, C dan D yang beragama muslim pun berdatangan untuk menunaikan salat Idulfitri bersama. Bukan hanya wargabinaan kasus pidana umum, tetapi juga kasus narkoba dan juga terorisme datang untuk Salat Ied.


Warga binaan asal Indonesia maupun luar Indonesia pun terlihat membawa sajadah dan menggunakan pakaian muslim datang ke lapangan tenis Pengayoman. Tidak hanya warga binaan yang mengikuti Salat Ied di lapangan, tetapi juga pegawai dan keluarga pegawai Lapas Pasir Putih pun beberapa diantaranya ikut Salat Ied. Pelaksanaan Salat Ied ini dimulai setelah kedatangan Ustaz Hasan Makarim, Koordinator Pondok Pesantren Warga Binaan Permasyarakatan Nusakambangan.

Puluhan wargabinaan dan juga pegawai lapas membaur menjadi satu di sof lelaki. Sementara di sof perempuan hanya ada empat orang saja, isteri Kalapas Pasir Putih, serta keluarga dari pegawai lapas dan saya.


Akan tetapi dalam Salat Ied tersebut, tidak terlihat Ustaz Abu Bakar Baasyir (ABB), serta Serge Arezki Atlaoui terpidana mati yang PKnya di tolak beberapa saat lalu. Walau dia beragama muslim, namun tidak terlihat ikut dalam Salat Ied bersama. Padahal, Kita para wartawan ini sangat berharap jika kedua orang ini, atau salah satunya bisa keluar untuk melakukan Salat ied. Tapi ternyata tidak..ya sudah lah..

"Ustaz ABB sakit, kakinya bengkak, jadi masih berada di dalam, kalau Serge juga sudah minta ijin sedang sakit, tapi kemarin saat Ramadan, dia ikut melaksanakan kegiatan keagamaan yang digelar di sini," kata Kepala Lapas Pasir Putih, Hendra Eka Putranto, usai melaksanakan salat ied, Jumat lalu.

Usai melaksanakan Salat Ied (saya tentu ikut Salat, dan kamera saya serahkan ke Mas Woto dari Antara), Ustaz Hasan Makarim yang juga memberikan khutbah. Dalam khutbahnya, Ustaz Hasan Makarim mengajak semua untuk bertaubat dengan sesegera mungkin.




"Taubatlah dengan segera dan tidak boleh ditunda, karena bertaubat wajib hukumnya. Apa itu dosa besar dan dosa kecil," ujarnya.

Ketika memiliki dosa, apa itu kecil dan besar harus segera nertaubat. Karena jika tidak akan berdampak pada dunia adan akhirat.

"Tak ada kata terlambat untuk mengucapkan taubat, jika tanda-tanda kiamat besar sudah datang maka taubat sudah tidak akan diterima," ujarnya sambil memberikan dalil-dalilnya.

Khotbah ini tentu tujuan utamanya ditujukan bagi wargabinaan, akan tetapi saya yang seperti ini pun ikut tersentuh untuk bertaubat. tapi kapan yaa....heee itu pertanyaannya.

Usai berkhutbah, Kepala Lapas Pasir Putih Hendra Eka Putranto memberikan remisi secara simbolik kepada wargabinaan. Dari 80 wargabinaan yang diusulkan, sebanyak 76 orang mendapat RK I dan satu orang memperoleh RK II atau langsung bebas.


Setelah itu, seluruh jamaan yang mengikuti salat ied bersalam-salaman. Terlihat antara petugas lapas dan juga warga binaan membaur menjadi satu. Mereka saling memaafkan. Tampak beberapa diantaranya menahan air mata, karena suasana lebaran yang harus dilalui di dalam tembok penjara.

ale_Silaturahm antara wargabinaan dengan petugas lapas dan Kalapas usai Salat Ied, Jumat lalu di lapas Pasir Putih

Usai melakukan silaturahmi, para wargabinaan kembali ke blok masing-masing. Menu makan pagi kali ini adalah ketupat opor ayam sama seperti menu khas Lebaran di Indonesia. Opor ini dimasak oleh wargabinaan yang bertugas memasak, dan kemudain di makan bersama-sama warga binaan yang ada di Lapas.

Mungkin mereka memang berada di dalam Lapas, dan terbatasi adanya tembok yang membatasi kebebasan mereka. Akan tetapi, sebagai seorang muslim, mereka juga berhak untuk merayakan hari raya besar ini bersama-sama, walau dalam keterbatasan.

Pulang dari Lapas Pasir Putih, kita sempat bersilaturahmi ke rumah dinas Koordinator Lapas Se-Nusakambangan yang juga menjabat sebagai Kalapas Batu. Selain silaturahmi, kita juga mencicipi makanan khas Makasar yang dihidangkan di sana...heee... Tak lupa saya juga ikut narsis di depan papan Lapas Batu.


Buat Saudara sebangsa dan setanah Air
Selamat Idulfitri 1436 H
Mohon Maaf Lahir Batin

Minggu, 23 Juni 2013

Ranu Kombolo

Ranu Kumbolo, kabut sudah menyelimuti lembah di ketinggian 2.400 mdpl dingin, tentu saja menusuk sampai ke tulang membuatku enggan untuk keluar dari tenda kuning kecil itu masih hangat didalam SB lafumaku tapi aktifitas harus segera dilakukan, karena hari ini harus sampai ke Arcapada Packing ulang, barang-barang yang bisa untuk hari turun dari puncak sampai ke Ranu Pani ditinggal. hanya sekedar membawa bekal sampai ke puncak dan turun, makan siang. lumayan, beban menjadi tidak terlalu berat. masih bisa save tenaga Kabut Ranu Kombolo itu tidak berselang lama...membuat orang yang ada disekitar takjub dengan luarbiasanya lembah itu. tidak bisa diukur dengan kata-kata, hanya ucapan mengagumi KuasaNya lah yang terucap tak lupa juga mengabadikannya di kamera D90 milik Fikri yang kupinjam...Luarbiasa
mentari mulai menyibak kabut Ranu Kumbolo karena masih capai, bersambung lagi aja yaa

Selasa, 18 Juni 2013

Belum Puas Ke Negeri Para Dewa (1)

Puncak Semeru Dilihat dari Kali Mati (2.700 mdpl) Semeru Gunung tertinggi di Pulau Jawa, 3767 mdpl Sudah 'ngiler' pengen mendaki gunung yang dibuat lagu oleh grup band Dewa 19 ini sejak masuk menjadi seorang Mahasiswa Pecinta Alam (mapala) tahun 2003 lalu. Gunungnya para Dewa, seperti lirik lagu dalam lagu yang dinyanyikan dengan vokalis ari Lasso itu. 'Puncak abadi para dewa.." Baru kesampaian, 09-12 Mei 2013. butuh 10 tahun ya untuk mencapa cita-cita ke Semeru. itu juga memaksa, cuti dari pekerjaan, harus ngetik tulisan yang akan dikirim ke kantor, sebelum cuti. sebagai stok berita. Tentu aku semangat sekali, ketika ada teman yang mengajak untuk ke sana. Walau dia kesana dalam rangka bawa tamu. aku hanya ikut transportasi dan juga simaksi masuk ke Taman Nasional Tengger Bromo Semeru. Amannya aku, karena sudah ada tiket pulang pergi Purwokerto-Surabaya.
Bersama dengan Mai-mai aku berangkat Kamis pagi, tanggal 8 Mei tentu. Berangkat sampai ke Surabaya. Bawaanku super berat, semua makanan masuk ke cerir yang ku bawa. tapi semangat mengalahkan semuanya. haa..lebay tapi dari perjalanan ini aku bisa bertemu dengan teman-teman lamaku. Randut, aku sempat bermalam di kontrakannya yang ada di Singosari. Sama anak dan adiknya, sebenarnya masih kangen berat, belum banyak ngobrol dengan dia. tapi waktu yang harus memisahkan kita. Bertemu dengan Niko dan teman-temannya yang berjumlah 27 orang di stasiun Malang. bersama-sama menggunakan angkutan desa, kita menuju ke hmm..apa ya namanya lupa, dari situ kita naik hardtop menuju ke desa terakhir, Ranu Pani Packing ulang, dan yang tidak perlu ditinggalkan. tapi karena semua perlu, maka tidak ada yang kutinggalkan. walau harus menggendong seluruh bawaanku yang sepertinya sama dengan porter. semangat. berangkat dari base camp sekitar pukul 16.00 WIB. karena harus lama mengurus perijinan masuk ke TNTBS itu. Pasalnya ratusan orang mengantri untuk bisa masuk bersamaan dengan liburan panjang. Luar biasa. Medannya tidak terlalu menanjak. seringnya datar. tapi,..luar biasa panjangnya. sudah berjam-jam berjalan, tidak ada penambahan ketinggian, malah harus turun ketinggian. sampai membuat saya yang sudah lama tidak naik gunung, eh..baru April ding turun dari Gunung Slamet membuat saya shock. pertama, jalannya puanjang bangets...kedua, jalan malam-malam. Perjalanan malam itulah yang sangat saya hindari, karena membuat cepat capek, dan membuat halusinasi berlebih.Selain itu juga,sudah terpisah dengan rombongan. mereka sudah duluan sampai ke tujuan pertama kita, tanah Surga, Ranu Kumbolo.
Melihat lampu-lampu berkerlipan dari kejauhan membuatku senang sekali. sudah pukul 21.00 WIB lebih, dan aku masih dijalan bersama dengan Mai-mai. Tapi, kenapa semakin lama, cahaya-cahaya itu semakin menjauh, dan ternyata masih jauh harus ku tempuh dengan berjalan kaki. padahal , punggungku sudah lunglai, dan sudah tidak sanggup lagi untuk membawa beban lima orang ini. Dengan disemangati oleh Mai-mai, akhirnya sampai juga di Ranu kumbolo. Hati senang akhirnya bisa duduk dan rebahan. ternyata, bukan di sisi dekat dengan turunan untuk camping. ternata masih di sisi lainnya, dimana spot keindahan ada di situ. dekat tanjakan cinta. Ya..Allah, sudah jam 10 dan harus berjalan lagi?!! Protes, tapi tak berdaya. karena tendaku sudah dititipkan kepada porter untuk dibawakan. terpaksa harus berjalan lagi menuju ke tenda. dengan kaki longlai dan goyah, gerutu selalu terdengar dari multku, peluh mengucur dari pelipis, dan badanku walau udara sangat dingin, dan pundakku sudah tak kuat menahan beban itu. Sampai di sana, terlihat seperti pemukiman jaman elit. karena semua menggunakan tenda terbaik. Luar biasa. baru kali ini, aku mendaki di gunung dengan begitu banyak manusia. Sampai aku bingung, mencari tenda kelompokku. karena semuanya hampir sama, Lafuma Kuning. Akhirnya setela mutermuter sebentar, nemulah tenda kelompok. membuatku lega. makan, istirahat dan sempat bercanda sebentar. aku keagian tidur di tenda yang kecil. berisi tiga orang cewe-cewe semua. hm..lumayan, hangat. yang penting bisa merebahkan badan.
bersambung yaaa.....heee...