Rabu, 04 Desember 2019

Menulis Itu Butuh Keberanian, Bukan Kemampuan



"Jika Kalian Ingin Menjadi Pemimpin Besar, Menulislah Seperti Wartawan, dan Bicaralah seperti Orator" Hos Tjokroaminoto, Pahlawan Nasional

Menulis itu sangat mudah, apalagi menulis komentar nyinyir di medsos orang...yeee..kaaan

Menurut saya, menulis itu butuh keberanian, bukan butuh kemampuan. Karena kalau hanya punya kemampuan tapi ngga berani menulis, ya sama saja. Tidak ada produk yang dihasilkan. Hanya membaca, melihat dan mengagumi tulisan orang lain. Sah-sah saja sih.

Kalau berani menulis, meski awalnya tidak mampu. Maka lama kelamaan setelah terbiasa, kemampuan menulis akan terasah lebih baik lagi.



Setiap hari saya menulis, karena tuntutan pekerjaan. ya karena saya menjadi wartawan di surat kabar lokal terintegeasi.

Beberapa saat lalu, saya meliput Komunitas Guru Menulis K'Gum Cilacap. Mereka adalah kumpulan guru-guru yang ingin menyampaikan ide dan kreativitasnya melalui buku.





Baru satu tahun, sudah ada 208 anggota. 78 guru diantaranya sudah menghasilkan karya, sebanyak 102 buah buku. Emezing kan...

Karena apa? Karena mereka berani menuangkan idenya melalui tulisan, dan dijadikan sebuah buku.


So, bagi kamu yang memang minat menulis, belajarlah terus. Membacalah terus. Sampai kau menemukan, menulis itu menjadi candu, membaca itu sudah menjadi narkoba dalam kehidupan. 





Bianglala Kehidupan



Bianglala Kehidupan

Saya takut akan ketinggian. Meski suka naik gunung.

Beda saja rasanya. Pada saat di puncak atau melipir punggungan, dimana dibawahnya merupakan jurang, rasanyabtidak semengerikan pada saat, berada di sebuah gedung tinggi dan langsung melihat ke lantai bawah.

Seperti tidak ada celah menyelamatkan diri. Di gunung, karena saya suka.

Sama halnya ketika berada di dalam bianglala. Rasanya ngeri-ngeri merinding di kaki. Saya juga suka, naik bianglala.

Bianglala, menurut saya seperti sebuah kehidupan. Sama halnya orang lain yang bilang kehisupan seperti roda berputar. Ya, sama.

Selalu berputar, kadang di atas kadang di bawah. Diawali dari kehidupan di bawah, lalu merangkak naik ke atas, sampai puncak. Bahkan juga harus turun ke bawah.

Ada perjuangan menuju ke puncak. Perjuangan perpindahan rasa, daei biasa, menjadi luar biasa.

Lama kelamaan pun akan bosan jika selalu mengarungi kehidupan yang itu-itu saja. Stagnan berputar.

Tapi dalam bianglala itu, selalu ada pintu sebagai jalan keluar yang bisa kita buka setiap saat.





Apa kita akan buka pintu bianglala ini pada saat berada di puncak? Tapi kita juga harus menimbang risiko yang bakal kita alami. Langsung terjun dari ketinggian kebawah. Bisa luka, bahkan mati. Jika beruntung, hidup dan melanjutkan perjuangan.

Atau kita buka pada saat dibawah? Saat tidak ada lagi benang kusut yang bisa diulur. Saat permasalahan terlalu pelik. Maka percaya pada diro sendiri, buka dan cari jalan keluar. Hirup udara bebas, tanpa menengok ke belakang, meski masih perlu dikenang.


Mungkin jalan kedua ini yang harus saya tempuh. Meski berat hati. Selama hampir 8 tahun, tanpa rasa

Senin, 14 Oktober 2019

Sapa Wani #17 Dari Klothekan Lesung sampai Penampilan Pelukis Suhadi Gembot




Suara kothekan lesung menyambut saya, saat mampir di gelaran Sapa Wani ke-17 di Lengkong Kelurahan Mertasinga Kecamatan Cilacap Utara Sabtu malam (12/10) lalu.. Alunan lesung dimainkan oleh grup Arum Sari ini menjadi daya pikat para fotografer dan videografer untuk mengabadikan, termasuk saya.



Saya datang di malam terakhir, gelaran budaya yang digagas para seniman Cilacap, yang mulai dibuka sejak Kamis (10/10). Ternyata tidak hanya klotekan lesung, ada tari-tarian tradisional yang ditampilkan, seperti tarian Bambangan Cakil, tari Gambyong, tari Manipur, Lenggeran, tarian jamu gendong hingga tari Srikandi Mustoko Weni.

Suasana tampak lebih menyatu, karena lokasinya berada di tengah areal persawahan kering. Memedi sawah dari jerami tidak ketinggalan dipamerkan.

Lukisan-lukisan dari para pelukis kenamaan pun dipamerkan, bahkan tidak ketinggalan foto-foto hasil karya fotografer Cilacap juga dipajang. Menariknya lagi, juga menampilkan pelukis Bejo Supit, dan juga Budi Wibowo.



Sebagai puncak rangkaian acara pada Sabtu malam kemarin, digelar pertunjukan melukis yang langsung dilakukan oleh pelukis Purbalingga, Suhadi Gembot. Uniknya, dalam pertunjukan melukisnya kali ini, dia berkolaborasi pertunjukan ebeg dan laesan.

Dalam rangkaian acara puncak inj, juga digelar beberapa kesenian, berupa Jambelan atau doa rasa syukur petani atas panen yang melimpah, tari massal petani, tari Srikandi Mustoko Weni, dan juga guyon maton campur sari.

Bambang Jos, seniman asal Cilacap yang menjadi penyelenggara ini mengatakan, Sapa Wani ini merupakan kegiatan yang rutin digelar oleh para seniman Cilacap. Dalam penyelenggarannya, lokasi selalu berpindah-pindah. Kali ini digelar di areal persawahan.



Meskipun berada di tengah areal persawahan kering, mampu menarik ratusan warga sekitar dan Cilacap untuk menyaksikan pentas seni yang menyuguhkan budaya Indonesia ini. Tua muda berbaur menjadi satu di bawah cahaya bulan purnama.

Gelaran Sapa Wani, menampilkan berbagai kesenian budaya Jawa, ini kata dia sebagai upaya untuk memperkenalkan sekaligus mempertegas bahwa budaya Jawa perlu untuk dilestarikan.

“Melalui kegiatan ini, kami para seniman ingin kembali mengingatkan anak muda mengenai budaya kita, generasi muda juga dipacu agar semangat berkreasi, berkreativitas dan punya keberanian jangka panjang,” katanya.

Dengan sukarela, tanpa pamrih, dan niat ingin melstarikan budaya, puluhan seniman dari berbagai daerah seperti Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Solo dan lainnya ini pun turut andil dalam mbaranggawenya seniman Cilacap ini.

“Semua yang datang ini yang peduli akan seni, tanpa ada yang memerintah, membayar, semua pengisi datang sendiri, makanya namanya Sapa Wani atau dalam bahasa Indonesia ‘Siapa Berani’ ayo tampil, panitia hanya memfasilitasi panggung,” ujarnya.



Gelaran malam terakhir Sapa Wani #17 ini mampu menyedot ratusan masyarakat. Mereka antusias karena penampilan pelukis Suhadi, bersama dengan ebeg. Atraksi Bambu Gila menjadi penutup acara kegiatan yang digelar setiap bulan sekali. (ale)

Ketemu Mantili, dan Si Buta dari Goa Hantu di Kampoeng Pendekar




Beberapa tahun lalu, ketika masih usia Sekolah Dasar, da banyak sinetron-sinetron bertemakan pendekar. Kala itu, selalu berandai-andai, jika menjadi pendekar seperti apa. Membasmi kejahatan, membantu yang lemah, menumpas kejahatan, dan pastinya sakti. 

Seringkali bermain 'gelut-gelutan' dengan teman, seolah-olah seperti pendekar. Waktu berlalu, meski saat ini masih ada sinetron, tapi sudah tidak tertarik lagi menonton sinetron-sinetron. Keinginan bertemu pada pendekar pun tidak sesemangat dulu. 

Tapi, bertemu pendekar, masih menjadi PR. So, saat ada Kampoeng Pendekar yang mengambil tema tempo dulu, dan bisa bertemu dengan pendekar-pendekar saya pun tertarik. Meski, Kampoeng Pendekar yang merupakan sebuah lokasi wisata budaya ini mengadopsi seperti wisata-wisata kekinian, yang menampilkan pasar dengan isi jajanan pasar, jajanan lawas, jajanan tradisional, dengan mengeepankan budaya. Sudah banyak wisata seperti ini, saya beberapa kali mengunjungi wisata seperti ini, rasanya sama. 

Bedanya, kali ini berada di Cilacap, tepatnya ada di Desa Sidaurip Kecamatan Binangun. Perjalanan ke sini sekitar 60 menit dari kota Cilacap. Akses jalannya pun mudah ditemukan, sudah bisa diakses di google map. 

Ramai, begitu memasuki gang menuju ke Kampoeng Pendekar. Baru minggu ke-2 dibuka, tentu masih banyak yang datang, karena penasaran dengan kampung ini. Terutama, kampung ini berada di tengah-tengah pemukiman warga. 

Warung--warung kecil berjajar di sepanjang jalan menuju ke Kampung Pendekar, membuat saya awalnya bingung mencari pintu masuk. Tetapi dengan mengikuti arus warga, akhirnya ketemu pintu masuk. Sebelummasuk, membeli tiket di loket dengan harga Rp 3.000. 

Dipintu gerbang, kita bakal disambut oleh dua orang pendekar yang siap mengecek karcis kita. Disini bisa foto, kalau antri ya jangan, kasihan pengunjung dibelakangmu. 




Suasana kampung pendekar ini sudah dimulai sejak pintu masuk. Dimana ada dua orang pendekar, Sibuta dari Goa Hantu dan pendekar lainnya, siap menunggu para pengunjung di depan pintu masuk Kampoeng Pendekar. Begitu juga di dalam kampoeng, seluruh petugas mengenakan pakaian Jawa. 

Bahkan, penjaja warung-warung yang ada di dalam juga mengenakan pakaian Jawa. Makanan yang dijual pun merupakan jajanan lawas, seperti dawet, rujak bebek, ketan, olahan dari ubi, dan lainnya. 

Namun, untuk membeli makanan yang ada, harus menggunakan uang kayu, atau uang kepeng. Mata uang tersebut bisa ditukarkan di tempat yang sudah disiapkan. Satu kepeng seharga Rp 2000. Petugas yang mengenakan pakaian seolah Mantili ini yang bertugas menukarkan uang-uang kepeng tersebut.

Benar-benar seperti tempo dulu, semua makanan yang dijual, tidak menggunakan plastik sebagai pembungkusnya, melainkan menggunakan daun pisang, dan juga piring dari tanah liat. Untuk gelasnya menggunakan bambu. Ini sebagai upaya untuk mengurangi sampah plastik.

Pengunjung pun bisa lebih merasakan berada di zaman dulu, dengan menyewa pakaian Jawa yang disiapkan di sana, dan berfoto di spot-spot yang sudah disiapkan. 


Kampoeng Pendekar, ini merupakan inisiatif para pemuda-pemuda desa tersebut yang tergabung dalam paguyuban Putra Langgen Jagad, Tangker Wijayakusuma dan Generasi Pesona Indonesia (GenPi) Kabupaten Cilacap. Dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas PEmuda dan Olahraga Kabupaten Cilacap Heroe Harjanto pada Minggu (2/9) lalu.

"Kita mengambil tema kekunoan, dan makanan yang ada pun tradisional, ada mainan bocah, serta pertunjukan kesenian tradisional," ujar Wawan, Founder Kampoeng Pendekar.

Wawan mengatakan melalui kampung Pendekar ini sebagai wadah melestarikan sejarah dan budaya, terutama kepada para generasi muda. Agar mereka akan terus belajar dan menghargai budaya sendiri. 

Selain itu juga sebagai wadah para komunitas-komunitas seni, untuk menampilkan karya-karyanya. Karena setiap minggu akan ada pertunjukan yang ditampilkan kepada pengunjung.

"Setiap minggu ada pertunjukan seni musik, kita akan gandeng komunitas, kerjasama dengan sekolah untuk mengisi disini, ada pencak silat, tari-tarian, musik etnik dan lainnya," katanya.

Meskipun dibangun secara swadaya, pemerintah desa turut mendukung adanya Kampoeng Pendekar ini. Pihaknya juga berharap medapat dukungan dari Pemkab Cilacap untuk pengembangannya. Sehingga kedepan Kampoeng Pedekar ini bisa menjadi Desa Wisata di Cilacap.

"Kedepannya ingin ada pengembangan lebih gede, dan kami berharap perhatian pemerintah dengan membantu konsep, agar budaya kita tetap terjaga kedepannya," katanya.

GenPi Kabupaten Cilacap Faiz mengatakan Kampoeng Pendekar ini merupakan sinergi untuk membangun wisata di Cilacap. Genpi, kata dia juga mendukung dari segala lini, terutama segi promosi.

"Konsepnya ini menjadi destinasi digital, dengan dipromosikan melalui digital melalui media sosial," katanya.

Buktinya, pada minggu pertama di lounching, masyarakat berbodong-bondong datang. Sama halnya dengan minggu kedua. Kebanyakan dari mereka mengetahui adanya Kampoeng Pendekar ini dari media sosial.

Wisata ini dikembangkan dengan menggali potensi yang ada. Sehingga diharapkan kedepan bisa berimbas terhadap masyarakat sekitar, bukan hanya mereka yang bersinergi di dalam Kampoeng Pendekar. 

Pasalnya, di luar lokasi Kampung Pendekar ini juga dipenuhi dengan pedagang-peagang kaki lima yang berjualan.

"Ini juga menunjukan meski bukan pusat keramaian desa, tapi masih bisa dikembangkan, jadi sebuah potensi tidak harus apa yang sudah ada tetapi bisa digali," katanya.

Untuk masuk ke kampung in, cukup bayar Rp 3.000/orang. Sedangkan untuk parkir rp 1.000 untuk sepeda motor, dan Rp 3.000 untuk mobil. 

Rania, satu pengunjung mengatakan jika penasaran dengan destinasi wisata baru di Cilacap ini, Kampoeng Pendekar. Meski berada satu jam darikota Cilacap, dia dan teman-temannya rela menempuh perjalanannya.

"Penasaran, karena di Instagram keren-keren banget fotonya, jadi ke sini. tempatnya asri, dan unik, karena ada pendekar-pendekar," kata warga Cilacap ini. (ale)

Selasa, 03 September 2019

Don't Judge a Book by Title





"Kau sih enak Le, ora suwe tanggungan, lah aku...,"

"Gajimu sih wutuh Le, nggo dewek tok, lah aku...,"

"Seneng ya jalan-jalan terus, ora ana sing ditanggung, dewekan ya bebas...,"

Begitu, salah tiga ucapan-ucapan teman yang berkomentar tentang keuangan ku. Yang menurut mereka, selalu bahagia, kelebihan uang, tidak pernah mengalami kesulitan, kesusahan terkait keuangan. Terutama saat ini, dimana upah kami masih menunggak. Dikirane masih ana tabungan segunung.

Sok tau..!! Sebenarnya aku ingin jawab itu, tapi kadang cuman ku senyumin saja, ketawain, atau ku jawab : "Ya iyalah..duit e nggo ngapa nek ora nggo foya-foya, jalan-jalan dan makan-makan...," kataku.

Haahaa...karena, apapun jawaban pernyataan itu, tidak akan merubah pikiran mereka tentangmu. Apapun beralasan, hak upah ini untuk membiayai keluarga, mereka ngga akan percaya.

Apapun perkataanmu, jika uang upahmu kau gunakan untuk bapak, ibu, biaya kuliah adikmu dan nabung buat ibumu haji..mereka ngga akan peduli. Apapun jawabanmu, tidak akan merubah pandangan mereka.

Karena selama ini sudah terpatri di pikiran orang, jika single woman, sepertiku yang bebas...tidak punya beban, tidak punya tanggungan, hidup berkecukupan. Bebas mau apa saja.

Apalagi, mereka sering lihat jalan-jalan, traveling atau naik gunung. Yang tentunya tidak menghabiskan hanya Rp 100 ribu, Rp 200 ribu. Makan-makan, atau beli buku.

"Kau bisa jalan-jalan, karena kau masih sendiri, duitmu cukup. Lah aku kalau jalan-jalan kudu mikir anak bojo," ujarnya.

Ingin aku menjelaskan, tapi percumah. Karena itu, diam dan senyum saja menjadi jawaban bagi mereka. Tidak lagi udah berkomentar. Tidak lagi usah menjelaskan. Tidak peduli lagi perkataan mereka. Tidak..meski aku tidak begitu.

Saya hanya ingin kalian tidak memandang orang berdasarkan perspektif kalian sensiri. Tidak usah menilai orang, hanya dari luar, atau karakter sehari-hari. Karena belum tentu itu kebenaran yang diperlihatkan oleh mereka.


Cukup berteman, tanpa membanding-bandingkan dengan diri kalian. Karena kehidupan kita berbeda-beda. Jangan membanding-bandingkan, karena kau tidak tahu proses yang sudah saya lewati.



Senin, 02 September 2019

Tempat Camping Cocok Bagi Keluarga di Purwokerto



Camping atau berkemah seringkali dilakukan oleh anggota Pramuka atau pecinta alam. Akan tetapi, akhir-akhir ini, kegiatan camping ini sudah semakin merakyat, alias bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan mereka yang belum pernah berkemah di alam sekalipun

Kegitan camping ini akan lebih menyenangkan jika dilakukan bersama dengan teman ataupun keluarga. Keluarga? iya...keluarga, terutama bagi orang tua yang ingin mengenalkan kegiatan alam kepada anak-anaknya.

Sekarang sudah banyak lokasi wisata sekaligus menjadi tempat camping yang ramah untuk keluarga, terutama anak-anak kecil. Bahkan hampir semua tempat camping komersial saat ini disetting ramah anak.

Di Banyumas, banyak loh tempat camping yang sudah ramah anak, dan bisa dimanfaatkan oleh keluarga untuk mengenalkan alam kepada anak. Jumlah pastinya belum saya hitung, tapi, kali ini saya hanya akan mengulas tiga saja. Karena lokasi ini yang pernah saya datangi dan menjajalnya. Diantaranya :

1. Warung Tenda

Warung Tenda berada di Desa Karangsalam Kecamatan Baturraden. Tempat yang menawarkan keindahan alam Baturraden. Bisa hanya sekadar  nongkrong, apalagi buat menginap.

Suasananya sangat menyenangkan, beranjak malam, bisa menikmati keindahan kota Purwokerto, dengan kerlap kelip lampunya. Bintang-bintang di langit juga terlihat semakin indah, karena terlihat jelas, tanpa diganggu oleh polusi udara maupun polusi cahaya kota.

Menikmati pemandangan, akan semakin asik dengan ada mendoan hangat, jahe susu dan juga semangkuk Mie Instan kuah yang menemani. Harganya? tentu sangat terjangkau.

Dulu, ada tenda-tenda di sini, tetapi sekarang sudah ada gazebo dari bambu sebagai tempat menginap. Tempatnya snagat instagramable deh.

Karena berada di Baturraden, kalau malam pasti dingin. Jadi jangan lupa mengenakan jaket ya.



2. Camp Area Umbul Bengkok (CAUB)



Lokasi Camp Area Umbul Bengkok atau dikenal CAUB ini tidak jauh dari Warung Tenda. tepatnya berada di bawah sebelah kanan Warung Tenda. Tempat camping dengan latar belakang  Gunung Slamet, dan juga indahnya kota Purwokerto di depannya.

Lokasi ini sangat cocok, bagi mereka yang ingin menikmati alam, terutama camping dengan cara yang tidak ekstrem. Tidak perlu jalan jauh, menuju lokasi camping, karena hanya lima langkah dari tempat parkir.

Bahkan membawa tenda dan pealatan camping lainnya. Semua disiapkan disini, tinggal siapkan uangnya saja, untuk menyewa. Praktis kan.

Harga sewa tenda tidak mahal, Rp 50 ribu/malam untuk 4 orang, tidak termasuk matras, dan juga sleepingbag. Untuk sewa ada harganya sendiri. Begitu juga dengan lampu, tempat tidur, bantal, kompor, kayu perapian dan lainnya. Jika bawa peralatan sendiri, hanya bayar sewa lahan saja Rp 35 ribu kalau tidak salah.

Buat anak-anak pun cocok lah, yang terpenting membawa pakaian hangat agar tidak kedinginan.

Jika tidak membawa bekal pada saat camping, tidak perlu takut, karena disini juga ada beberapa warung. Beberapa diantaranya juga buka 24 jam. Jangan takut kelaparan.

Camping disini benar-benar syahdu, terdengar suara gemercik air, dari sungai kecil dan juga curug kecil. Ada juga kandang angsa. Disiapkan toilet, jadi jangan khawatir.

Banyak yang camping di lokasi ini, dari semua kalangan, anak-anak sampai orang tua. Sekolah, keluarga, teman, atau gathering.  Jika tidak mau camping, bisa juga hanya makan malam sambil menikmati gemintang. Karena banyak gazebo dan juga ada gardu pandang sebagai tempat istirahat.



3. Germanggis



Germanggis, berada di Desa Karangtengah Kecamatan Cilongok. Lokasinya 200 meter sebelum tempat wisata Curug Cipendok. Jalannya ke lokasi ini cukup mudah, dan jalannya sudah halus. Tetapi haru hati-hati karena menanjak dan lumayan sempit.

Suasannya sangat sejuk, tidak kalah dengan di Baturraden. Pemandangannya juga mengasyikan, pegunungan, suasana pedesaan, dan juga peternakan sapi. Tiket masuk seharga Rp 10 ribu satu orang, dengan parkir Rp 5 ribu/motor.

Ada ikon dari lokasi ini, yakni Buah Manggis dengan ukuran besar, dan juga uuran kecil berwarna hijau. Ada banyak lokasi foto istagramable disini, tinggal pilih.

Untuk lokasi camping, ada dua tempat, dibawah dan juga diatas, dengan pemandangan yang tidak kalah menariknya. Disinipun, sudah disiapkan tenda-tenda yang siap digunakan. Harga sewanya tergantung dengan besar kecilnya tenda, isi 2, isi 4 atau lebih..kalau isi 4 sekitar Rp 50 ribu, termasuk matras. Tidak termasuk sleepingbag, dan pakaian hangat.

Disini juga ada warung-warung yang menjual makanan, jadi aman tidak kelaparan. Selain itu, banyak tempat bermain untuk anak, ada juga taman, bisa menjadi tempat edukasi mengenalkan alam kepada anak-anak.


Sebetulnya ada banyak lokasi yang ramah anak dan buat keluarga camping, tapi menurut saya tiga lokasi ini yang mudah dijangkau, praktis, dan pemandangan indah. Selamat mencoba...

Bagi ada yang memiliki refrensi tempat camping ramah anak lainnya, bisa usul, agar saya bisa ke lokasi dan menjajalnya.



Selasa, 06 Agustus 2019

Masa Menyerah di Raung?


Ingin Menyerah, Tapi Tak Bisa Menyerah 

Puncak Gunung Raung 3344 mdpl


Jalur terjal yang tidak berujung, berat beban yang dibawa dan juga gelapnya malam membuatku ingin menyerah pada pendakian ke Gunung Raung, kemarin.

Bagaimana tidak, Camp 7 yang menjadi tujuan camp hari pertama, tidak kunjung terlihat. Jalan terus menerus menanjak, tiada akhir sejak Camp 3. Badan sudah letih, basah kuyup oleh keringat yang mengucur. Menambah dingin menusuk tulang.

Jalan Menuju Puncak
Kaki serasa sudah enggan melangkah, menapaki jalur bebatuan dan berakar. Nafas sudah tidak lagi bisa berirama normal. Mata sudah tidak bisa fokus melihat, phobia jalan malam tepatnya. Sudah hampir 11 jam kaki ini menapak dari Camp 1 Sunarya menuju ke Pos 7. Tapi sampai pukul 20.00 WIB, shelter yang kami tuju tapi tidak kunjung terlihat.

Ingin mulut ini berkata dengan lantang “Aku menyerah!!” tapi hati ini melarangnya. Masa harus menyerah di jalur Raung, belum sampai Puncak loh..Apalagi, nanjak ke Raung butuh biaya besar. Okelah...

Jalur e broo....ini dari Pos 7 menuju ke Puncak

Yaa, memang tidak bisa menyerah. Entah berapa langkah lagi akan sampai ke Camp 7, kalaupun ingin berhenti dan turun, jalan pun sudah terlalu jauh. Sudah malam pula. Meski berat, kaki ini harus terus melangkah, meski berat, beban ini harus kubawa, meski berat harus sampai ke Camp 7 agar bisa istirahat. Dukungan dari tim juga membuatku semangat untuk sampai ke target hari pertama.

#karena tepar, jadi tidak banyak foto yang dibuat ya...haaa...

Pukul 21.00 WIB, tim Pejabat (pendaki jalan lambat) ini pun akhirnya sampai. Tenda warna kuning yang sudah terpasang, karena dipasang oleh porter yang juga membawa 15 liter air. Hebatlah mereka para porter itu.  

Angin besar langsung menyapa kami ketika sampai di Camp 7. Tidak butuh waktu lama, untuk mengeluarkan perlengkapan pribadi, ganti pakaian, jaket, kaus kaki, tidak lupa sarung, dan paling penting buka sleeping bag. Minum satu kotak susu coconut, tanpa menungggu makan malam, tidurlah saya..



Perjalanan dari Camp 7 menuju ke Puncak pun tidak kalah terjal dari awal pertama perjalanan. Tidak ada jalan 'bonus' menuju ke Puncak. Diestimasi perjalanan ke Puncak dari Camp 7 butuh sekitar 10 jam untuk naik turun. Nah loh, kalau Pejabat seperti kita pasti lebih kan...dan ternyata benar naik turun, kita tempuh selama 11 jam perjalanan. Wow...dua hari jalan 11 jam teruuuus.

Istirahat cukup di malam terakhir. Tidak lupa menikmati hamparan bintang, meski hawa di luar sangat dingin. Milkiway tidak lagi terlihat, tidak seperti saat terlihat di Pos 5 atau pos 6 saat nanjak. Perjalanan turun pun harus dilewati dengan slowly...pas Azan Maghrib kita sampai ke Pos Sunarya atau pos 1. atau berjalan sekitar 7 jam. 

Bayangkan kalau saya menyerah, tidak bisa sampai ke puncak. Sudah buang uang sia-sia, dan bakal menyesal seumur hidup. Karena sepertinya kalau diajak lagi ke Raung, saya bakal pikir panjaaaang lagi.

Berjuanglah terus sampai batasmu. Ingat persiapkan segala sesuatunya, terutama fisik sebelum naik gunung...